marinir as filipinaManila, LiputanIslam.com — Seorang anggota marinir AS yang berbasis di Filipina telah ditahan setelah diduga membunuh seorang wanita transgender lokal di sebuah hotel tanggal 12 Oktober lalu. Namun ketidak hadirannya dalam pemeriksaan telah memicu kemarahan warga Filipina.

Joseph Pemberton diduga telah membunuh Jennifer Laude, seorang wanita transgenger lokal, yang jasadnya ditemukan di sebuah kamar mandi hotel. Ia mangkir dari pemanggilan penyidik hari Selasa (21/10) dan  pengacaranya berdalih bahwa kehadirannya tidak diperlukan.

Keluarga Laude telah menyerukan kepada pemerintah AS untuk menjamin proses keadilan atas kasus ini. Demikian laporan BBC News.

“Kami berharap Amerika akan membawanya keluar. Mereka melindungi manusia yang tidak berharga,” kata Julita Laude, ibunda korban pembunuhan kepada wartawan.

Pemberton disebut-sebut tengah dalam persiapan meninggalkan kota pelabuhan Olongapo di utara Filipina, tanggal 11 Oktober lalu, setelah mengikuti latihan militer bersama AL Filipina, ketika ia bertemu Jennifer Laude di sebuah bar.

Polisi mengatakan, keduanya meninggalkan bar dan masuk ke kamar hotel dimana Jennifer ditemukan tewas di kamar mandi keesokan harinya. Diduga kuat ia telah dijerat lehernya.

Di bawah perjanjian Visiting Forces Agreement (VFA) dengan Filipina, AS diberi hak untuk menahan sendiri personil militer AS yang terlibat kejahatan di negara itu.

Saat mangkir dari pemanggilan polisi pada hari Selasa, pengacara Garcia Flores, mengatakan bahwa kliennya tengah mempelajari kasus yang dituduhkan kepadanya dan ia tidak perlu hadir secara langsung dalam pemeriksaan.

Namun Fe de los Santos, kepala penyidik kasus ini, mengatakan bahwa Pemberton harus datang pada pemanggilan berikutnya tanggal 27 Oktober.

“Kehadiran anggota marinir itu akan memberikan penilaian baik atas kemauan pemerintah AS untuk memenuhi Visiting Forces Agreement,” katanya.

Menyusul mangkirnya Pemberton dari pemeriksaan, Selasa (21/10) malam Marinir AS mengatakan telah memindahkan Pamberton ke kamp Aguinaldo, Quezon City, yang menjadi markas militer AS di Filipina.

Dalam pernyataannya militer AS menyatakan akan bekerjasama dengan pemerintah Filipina, namun “penting untuk diingat bahwa seseorang yang dituduh melakukan kejahatan tetap dianggap tidak bersalah sampai pengadilan memutuskan”.

Tahun ini AS dan Filipina menandatangani perjanjian 10 tahun yang mengijinkan kehadiran militer AS yang lebih besar di Filipina dengan kemudahan akses lebih besar ke pangkalan, pelabuhan dan pangkalan udara militer.

Perjanjian itu dilakukan di tengah hubungan Filipina dengan Cina yang memburuk terkait wilayah sengketa di Laut Cina.

Namun kalangan nasionalis mengkritik perjanjian itu, menganggapnya sebagai pelecehan kedaulatan Filipina dan tidak memberikan keuntungan apapun kepada Filipina.

Kematian Laude semakin menguatkan suara-suara menentang perjanjian militer Filipina dengan AS, dan para demonstran menuntut Filipina untuk mencabut perjanjian VFA.

Pada hari Senin (20/10) Presiden Filipina Benigno Aquino mengatakan kasus itu tidak boleh merusak hubungan kedua negara, sementera Menlu AS John Kerry mengatakan bahwa AS tidak menghendaki adanya kekhususan bagi warganya, melainkan hanya untuk melindungi hak-haknya.

Sampai saat ini masih belum ada kejelasan apakah Pemberton akan hadir dalam pemeriksaan selanjutnya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL