Washington, LiputanIslam.com—Mantan Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice, memperingatkan kebangkitan kaum populis di seluruh dunia. Ia mengatakan, kekalahan orang-orang ini dalam pemilu tidak berarti mereka tak memiliki pengaruh dalam politik.

Menteri kulit hitam AS pertama itu melontarkan pernyataan tersebut setelah kandidat populis Prancis, Marine Le Pen, kalah dalam pemilu presiden. Kekalahan itu tidak seperti tren populis di Inggris dan AS yang mengakibatkan Brexit dan kemenangan Donald Trump.

Dalam pemilu Prancis, kandidat liberal pro-UE Emmanuel Macron-lah yang menang.

“Dalam pemilu-pemilu ini kita melihat kaum populis memegang kekuasaan besar,” kata Rice pada Minggu (7/05/2017). “Tapi saya pikir salah jika kita melihat kandidat populis kalah dan kita menyangka mereka tidak mempengaruhi (politik).”

Hanya dengan mendapat banyak perhatian di panggung politik dan memancing isu-isu populis di tengah publik berarti mereka mendapat banyak kekuatan, kata Rice.

Perempuan berumur 62 tahun itu juga menilai kebangkitan populisme telah mengalihkan perhatian publik atas isu riil yang dihadapi masyarakat dunia.

“Anda perhatikan semakin sedikit yang membicarakan tentang perdagangn bebas. Ada perhatikan negara-negara lebih banyak membicarakan tentang kebijakan industrial dan proteksionisme… Kebangkitan nativisme juga menyebabkan pengaruh dalam politik,  meski para kandidat itu tidak menang.”

Berdasarkan perhitungan suara terakhir, Macron mendapat suara 65,5 persen dan di atas Le Pen dengan 34,5 persen.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengucapkan selamat kepada Macron dalam akun twitter-nya.

“Selamat kepada Emmanuel Macron atas kemenangannya hari ini sebagai Presiden Prancis berikutnya… Saya sangat berharap bisa melakukan kerjasama dengannya!” tulis Trump. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL