fordLondon, LiputanIslam.com–Peter Ford, mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah (2003-2006) dalam wawancaranya di Radio BBC pasca pembebasan Aleppo dari tangan milisi Al Qaida, menyatakan bahwa Inggris harus move-on dan menerima Assad sebagai pemimpin Suriah.

Berikut ini terjemahan wawancara yang berlangsung pada 21 Desember 2016 itu.

Presenter [P]: Mr. Peter Ford, apakah kini saatnya bagi Inggris untuk berpikir ulang?

Ford [F]: Tentu saja… Kita sudah terlalu lama berilusi bahwa ‘oposisi moderat’ akan mengalahkan Assad. Tentu saja kini, dengan pengambilalihan Aleppo, realitas terbuka di depan mata kita bahwa Assad tak akan bisa ditendang oleh militer atau di atas meja negosiasi. Yang harus dilakukan Inggris adalah tiga hal: kita harus berhenti mendukung oposisi yang gagal; membantu rakyat Suriah dengan menghapus sanksi; dan bekerja dengan pemerintah Rusia dalam penyelesaian konflik melalui langkah politik

P: Tapi penyelesaian politik yang kita ketahui tidak mengikutsertakan Assad.  Boris Johnson contohnya, Menteri Luar Negeri, pada September tahun ini mengatakan bahwa “[Assad] tidak boleh mengambil bagian dari pemerintah Suriah di masa depan, karena selama Assad berkuasa Damaskus, tidak akan ada negara Suriah untuk dipimpin.”  Downing Street [PM Inggris] mengatakan awal bulan ini bahwa “kejahatan biadab rezim Suriah memperlihatkan bahwa Presiden Bashar Assad tidak layak memegang Suriah di masa depan.

F: Ini hal yang absurd. Assad mengontrol lebih dari 80% kawasan Suriah.  Dalam hitungan bulan ke depan, dia dan tentaranya akan segera merebut kembali sisa kawasan, 10, 15 sampai 20%. Dia akan mengontrol negara tersebut secara total.  Tentu saja akan ada kelompok-kelompok yang tidak senang, tapi, di negara mana ada yang pernah terjadi konflik seperti ini, lalu seluruh penduduknya setuju dengan pemimpinnya. Tidak ada Mandela di Suriah. Bisakah kita menyebutkan nama pemimpin oposisi yang bisa menggantikan Assad? Itu absurd. Tidak masuk akal. Hal ini memperlihatkan Boris Johnson dan Teresa May telah menutup mata dari realitas. Sekarang Donald Trump akan resmi menjadi presiden, dan jika dia melakukan apa yang ia janjikan, ia akan menormalisasi hubngan dengan Rusia, dia akan memprioritaskan perang terhadap ISIS di Suriah, dan dia akan berhenti mencoba menjatuhkan Assad. Apa kita cuma berperan ‘mencium wangi kopi’ saja?

P: Anda pernah bilang, Anda khawatir atas dukungan Inggris terhadap kelompok oposisi moderat dan memang ada tuduhan kekerasan yang dilakukan oleh mereka. Meskipun begitu, jika Anda membiarkan Presiden Assad lanjut memimpin diplomasi Suriah di masa depan, bukankah itu artinya memaafkan apa yang telah ia lakukan selama ini? Senjata kimia, contohnya, terhadap rakyatnya sendiri?

F: Lihat, malam ini ada Pohon Natal di Aleppo dan orang-orang berpesta. Saya pikir jika Assad dijatuhkan, dan pihak oposisi masih berkuasa, Anda tak akan melihat Pohon Natal di Aleppo. Penghancuran rezim telah dilakukan selama kurun waktu yang gila. Bahkan krisis ini diakhiri dengan bus-bus berwarna hijau [untuk mengevakuasi milisi Al Qaida -red]. Tidak ada bus hijau ketika NATO membombardir Yugoslavia hingga berkeping-keping. Kampanye ‘save Aleppo’ ini bersifat relatif. Kita tidak melihat apa yang dituduhkan; yang terjadi bukanlah “rusaknya kemanusiaan di Suriah”, tapi rusaknya akal sehat. Di mana bukti-bukti kekejaman, pambantaian, genosida, Holocaust yang mereka sebarkan?

P: Saya pikir Anda akan melihat banyak orang tidak setuju dengan pernyataan tersebut, karena mereka sudah melihat para penduduk Suriah yang lari dari Aleppo timur. Ada dugaan bahwa para penduduk diserang dan dicegah untuk meninggalkan kota. Anda dengan keras tidak menyetujui figur-figur politik senior di seluruh dunia yang menyatakan bahwa Presiden Assad tak boleh berkuasa di Suriah di masa depan. Tolong sampaikan pernyataan terakhir Anda dan kita akan segera akhiri wawancara ini.”

F: Well, inilah realitasnya. Siapa pemimpin yang akan menggantikan Assad? Untuk mencoba menjatuhkan rezim Suriah, seperti halnya kita menjatuhkan rezim di tempat lain – di Iraq, dan Libya – itu hanya menyebabkan penderitaan terhadap penduduk tak bersalah.

P: Peter Ford, mantan Duta Besar Inggris, terimakasih banyak. (ra)

Baca:

Lina, Narasumber BBC Ternyata Teman Teroris

Hoax Save Aleppo untuk Siapa?

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL