hewittPretoria, LiputanIslam.com — Mantan bintang tennis dunia era 1960-an hingga 1970-an asal Australia yang kini menetap di Afrika Selatan, Bob Hewitt, divonis penjara selama 6 tahun karena dakwaan perkosaan atas 2 orang murid didiknya yang masih di bawah umur.

Sebagaimana dilansir BBC News, Senin (18/5), Hewitt yang kini berumur 75 tahun, telah dinyatakan bersalah pada bulan Maret lalu atas dakwaan perkosaan dan pelecehan seksual terhadap 3 orang gadis di bawah umur yang ia latih pada tahun 1980-an dan 1990-an.

Hakim Bert Bam yang menjatuhkan vonis atas Hewitt dalam sidang pengadilan di Pretoria hari ini (18/5), mengecam Hewitt yang dianggap tidak menunjukkan penyesalan selama persidangan.

Seorang saksi korban dalam sebuah persidangan mengungkapkan kepada hakim bahwa Hewitt melakukan penyerangan seksual terhadap dirinya saat ia masih berusia 12 tahun. Berdasarkan kesaksian-kesaksian korban, hakim menyimpulkan bahwa aksi-aksi yang dilakukan Hewitt telah direncanakan dengan matang.

Sementara itu istri Hewitt, Delaille memohon kepada hakim agar suaminya tidak harus dipenjara. Namun hakim mengatakan bahwa keadilan harus ditegakkan, meskipun terhadap seseorang yang sudah lanjut usia seperti Hewitt.

Hewitt dalam persidangan mengaku mengalami kondisi kesehatan yang tidak fit.

BBC juga melaporkan bahwa selain hukuman penjara, Hewitt harus membayar denda kepada pengadilan dimana dananya akan digunakan untuk kampanye melawan kejahatan seksual.

Hewitt, diperkirakan akan mengajukan banding atas keputusan hakim tersebut.

Hewitt adalah seorang bintang tenis dunia era 1960-an dan 1970-an, meski tidak pernah memenangkan satupun gelar grand slam singel putra. Ia memenangkan 16 gelar grand slam untuk ketegori ganda putra dan ganda campuran. Ia bahkan hampir dimasukkan ke dalam daftar legenda tennis dunia ‘International Tennis Hall of Fame’ pada tahun 2012, namun batal karena kasus ini.

Hewitt yang kelahiran Australia awalnya bermain membela negara kelahirannya. Namun setelah menikahi wanita Afrika Selatan, ia pun berpindah kewarganegaraan istrinya dan tinggal di negara ini.

Pada tahun 1974 ia termasuk dalam tim tennis Afrika Selatan yang memenangkan gelar Piala Davis, setelah lawannya di final, India, menolak bermain sebagai bentuk protes kepada regim apartheid Afrika Selatan.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL