pindah mayatDonetsk, LiputanIslam.com — Tim penyelidik kecelakaan pesawat Malaysia Airlines MH-17 dari Malaysia telah tiba di Ukraina, Sabtu (19/7). Namun mereka mengeluhkan sulitnya akses mereka terhadap lokasi kecelakaan. Selain itu mereka juga mengeluhkan banyaknya barang bukti yang tidak dilindungi seperti seharusnya.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Malaysia, Bernama dan dikutip CNN, tim penyidik Malaysia masih bernegosiasi dengan kelompok separatis yang menguasai wilayah kecelakaan, untuk memberikan akses penuh bagi 131 anggota penyelidik.

Sementara itu Menteri Transportasi Malaysia Liow Tiong Lai mengatakan, hari Sabtu (19/7) bahwa pihaknya sangat prihatin dengan lokasi kecelakaan yang tidak dilindungi dengan baik.

“Ada indikasi-indikasi bahwa bukti-bukti vital tidak dijaga sebagaimana mestinya,” kata Tiong Lai.

Sementara itu muncul pertanyaan di kalangan penyelidik internasional tentang mayat-mayat korban yang telah dipindah-pindahkan oleh orang-orang yang diduga dari kelompok-kelompok separatis Ukraina.

Michael Bociurkiw dari organisasi keamanan Eropa (OSCE) menyebutkan bahwa pada hari Sabtu (19/7) pihaknya menyaksikan orang-orang tengah mengangkati kantong-kantong berisi mayat. Namun ia tidak bisa memastikan siapa yang bertanggungjawab atas aksi tersebut karena “tidak ada komando yang jelas” di antara kelompok-kelompok separatis di lokasi kecelakaan. Selain itu sebagianb besar orang-orang itu mengenakan penutup muka.

Michael Bociurkiw juga mengeluhkan terbatasanya akses ke lokasi kecelakaan.

“Kami memberlukan banyak waktu dan akses bebas ke lokasi,” katanya.

Diperlukan Resolusi DK PBB

Masalah akses ke lokasi kecelakaan mendorong Dewan Keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi tentang pembebasan akses penyelidikan ke lokasi kecelakaan sekaligus kutukan terhadap aksi penembakan pesawat MH-17. Resolusi juga menyerukan negera-negara di kawasan untuk bekerjasama dengan penyelidikan internasional.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters, Minggu (20/7) dengan mengutip diplomat Australia melaporkan, Australia telah menyerahkan draft resolusi DK-PBB tersebut ke seluruh 15 anggota DK PBB. Diperkirakan draft tersebut akan dibahas di sidang DK PBB hari Senin (21/7) untuk disetujui.

Australia adalah salah satu negara yang paling banyak menanggung korban dengan 28 warga negaranya tewas dalam musibah tersebut.

Sulitnya akses ke lokasi kecelakaan juga membuat Presiden Vladimir Putin terpojok dimana ia didesak untuk menggunakan pengaruhnya terhadap separatis untuk membuka akses yang lebih luas.

“Kemarin, para penyidik dari OSCE hanya diijinkan berada di lokasi selama 75 menit. Hari ini mereka hanya diijinkan kuran dari 3 jam,” kata jubir kemenlu AS dalam pernyataannya hari Sabtu (19/7) malam.

“Lokasi kecelakaan dalam kondisi tidak akan. Ada banyak laporan tentang bagian-bagian reruntuhan pesawat telah dipindahkan dan bukti-bukti potensial telah dirusak. Ini tidak bisa diterima dan merupakan pelecehan terhadap mereka yang telah kehilangan orang-orang terkasih mereka dan terhadap martabat para korban,” tambah pernyataan tersebut.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL