salah satu sudut Al Azhar (foto: asianews.it)

salah satu sudut Masjid Al Azhar (foto: asianews.it)

Kairo, LiputanIslam.com— Dua orang mahasiswi Al Azhar asal Indonesia menjadi korban penodongan disertai kekerasan dan upaya pelecehan seksual. Salah seorang di antaranya meninggal dunia, dan seorang lainnya luka-luka. Korban meninggal bernama Gusti Rahma Yeni, mahasiswa tingkat tiga yang berasal dari Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Korban lain bernama Rizqana Mursyida,mengalami luka-luka ringan karena dianiaya penjahat.

Kejadian bermula ketika keduanya menaiki angkutan umum Tramco (semacam angkutan colt) pada Kamis (17/7/2014) sekitar pukul 20. 30 waktu setempat usai menjalani ifthar (buka) bersama. Demi mengejar shalat tarawih dan batas akhir waktu keluar asrama, keduanya sepakat naik mobil Tramco, meski nantinya harus berganti-ganti kendaraan tiga kali. Di dalam Tramco saat itu sudah ada penumpang lain, yaitu dua lelaki pribumi dan sang sopir. Dari sinilah naas bermula, karena ternyata Tramco itu adalah sekomplot penjahat yang sebelumnya sudah beberapa kali memangsa mahasiswa asing al-Azhar.

Untuk mengikis kecurigaan penumpang, Tramco itu sempat menaikkan satu penumpang bertujuan dekat. Setelah itu, sang sopir memang berteriak memanggil penumpang yang tujuan ke arah distrik Makram, namun setiap ada penumpang yang menyetop mobil malah melaju dengan cepat dan tidak berhenti untuk mengambil penumpang. Kemudian Tramco justru keluar dari jalur seharusnya dan menuju lokasi sepi di kawasan pemakaman umum Muslim dan Koptik. Sebelum ke arah pemakaman, korban sempat memprotes, namun sopir berdalih hendak mengisi bensin dahulu. Di tempat sepi itulah dua orang penumpang yang lebih dahulu naik tadi melancarkan aksinya. Mereka merampok barang-barang dan berupaya melakukan pelecehan kepada korban. Dalam keadaan panik, Gusti Rahma Yeni memilih spontan membuka pintu dan melompat dari mobil yang melaju kencang. Malangnya, kepala korban terbentur keras hingga meninggal dunia. Sementara, Rizqana yang tetap tertahan di dalam mobil sempat dianiaya lantas dilemparkan keluar setelah sekawanan penodong itu panik melihat satu targetnya nekat melompat.

salah satu sudut kampus putri Al Azhar, terlihat mobil Tremco

salah satu sudut kampus putri Al Azhar, terlihat mobil Tremco

Mengetahui peristiwa tragis itu, Grand Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed At-Thayyeb yang saat malam kejadian sedang berada di Dubai UEA, langsung mengirim utusan untuk menyampaikan ucapan bela sungkawanya ketika bertemu dengan salah satu korban dan tim KBRI Kairo di Kantor Kejaksaan Kairo. Utusan Grand Syekh Al Azhar, Abdurrahman Musa, menegaskan bahwa Al-Azhar berkomitmen akan mengawal dan membantu penyelesaian kasus perampokan dan pembunuhan tersebut. Abdurrahman juga menyampaikan ucapan bela sungkawa Grand Syekh Al-Azhar kepada masyarakat Indonesia di Mesir atas musibah ini. Syekh Al-Azhar memberikan perhatian besar terhadap penanganan kasus ini agar pelaku dapat segera ditangkap dan diadili. Abdurrahman bahkan menambahkan bahwa para mahasiswi asing adalah putri-putri kandung Al-Azhar dan berada dalam tanggung jawab Al-Azhar.

Seorang mahasiswa Al Azhar, Ahmad Muhakam Zein yang diwawancarai LiputanIslam.com, menyebutkan bahwa Gusti Rahma Yeni adalah mahasiswi tingkat tiga fakultas Syariah Islamiyah yang baru dua bulanan pindah ke asrama Buuts demi memudahkan ikut pengajian di masjid al Azhar. Menurut kesaksian teman-temannya di laman Facebooknya, Gusti adalah mahasiswa yang berakhlak baik, ramah, salihah dan tidak neko-neko.

“Bahkan wajah almarhumah memancarkan senyuman meski meninggal dalam keadaan panik demi mempertahankan kehormatannya,” tulis beberapa kawan di laman Facebook Gusti. Komentar bernada sedih dan tidak percaya terlihat membanjiri beranda Facebook almarhumah.

Lebih lanjut Ahmad mengatakan bahwa dirinya dan seluruh elemen mahasiswa Al Azhar asal Indonesia sangat mengharapkan langkah tegas dari KBRI Kairo untuk mendesak pihak-pihak terkait dan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Ahmad juga mengharapkan kasus ini menjadi titik tolak pihak KBRI untuk melobi pihak aparat dan otoritas keamanan Mesir agar lebih memberikan perlindungan keamanan kepada para mahasiswa asing. Sebab menurut Ahmad, kasus ini adalah kasus kriminal kali kesekian yang dialami mahasiswa Indonesia belakangan ini, meski baru pertama kali yang sampai menimbulkan korban jiwa. Kasus-kasus kejahatan lain seperti penodongan, penusukan, penjambretan, pencurian sudah sangat sering dialami mahasiswa. Dalam keterangan akhirnya, Ahmad berharap pihak KBRI Kairo memberikan kasih sayang dan perhatian lebih kepada para mahasiswa Indonesia yang di Mesir.

“Kami sungguh sangat terharu dengan pernyataan terbuka dan adanya jaminan keamanan dari dari Grand syekh al-Azhar maupun dari Dr. Abbas Shouman, selaku perwakilan al-Azhar. Bahkan para Masyikhah al-Azhar secara terbuka telah menyatakan membuka pintu dan hati mereka untuk kami yang dianggap anak-anaknya jika memiliki masalah sekecil apapun. Sungguh, datangnya pernyataan di saat suasana kalut dan duka itu membuat kami menitikkan airmata haru. Kami berharap pihak KBRI tersentuh dan bisa meneladani perhatian para masyayikh al Azhar as Syarif,” pungkas Ahmad menutup keterangannya.(dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL