kampus UI (foto:okezone.com)

kampus UI (foto:okezone.com)

Depok, LiputanIslam.com–Siapa tak kenal Harvard University? Universitas itu sedemikian tersohor dan termasuk  deretan atas universitas terbaik dunia. Namun, hal itu tak membuat lima mahasiswa dari Univesitas Indonesia (UI) minder. Bahkan mereka dengan penuh percaya diri bertarung dalam kompetisi Arbitrase International Semu terbesar di dunia, the 21st Willem C International Commercial Arbitration Moot (Vis Moot).

Hasilnya, lima mahasiswa Fakultas Hukum UI itu menjuarai kompetisi itu, mengalahkan tim dari Harvard. Kelima mahasiswa UI adalah Jeremiah Purba (angkatan 2010), Artika Nuswaningrum (2013), Asru Rahimi (2011), Kezia Minar Paladina (2012) dan Putri Meisita Kusuma (2010). Mereka menyisihkan 220 universitas dunia, diantaranya Yale University, Harvard University, University Collage London, King’s College London, Leiden University dan University of Washington.

Kepala Kantor Komunikasi UI Farida Haryoko mengatakan, kompetisi ini menguji pengetahuan mahasiswa mengenai hukum internasional serta kemampuan berargumentasi dalam arbitrase. Baik sebagai kuasa hukum penggugat maupun tergugat.

“Mahasiswa harus menguasai The United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods (CIGS), UNIDROIT Principles 2010, UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration 1985 with 2006 amendments, the New York Convention 1985 on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards, serta sesuai aturan lembaga arbitrase yang digunakan pada tahun ini yaitu CEPANI Arbitration Rules,” kata Farida, Jumat (25/4/2014).

“Kerja keras tim UI yang telah berlatih selama enam bulan di bawah bimbingan senior serta Dekan FHUI Topo Santoso telah berbuah manis tidak hanya bagi tim maupun fakultas melainkan juga bagi UI serta Indonesia,” lanjutnya.

Tim FHUI berhasil masuk 64 besar selama dua tahun berturut-turut bersama dengan universitas tersohor dunia seperti Cornell Law School, Columbia University dan Utrecht University.

“Kami berharap advokat Indonesia nanti tidak klise dengan advokat penyuap dan korupsi. Namun menjadi sosok advokat yang cerdas dengan keahlian berbicara yang handal,” ungkap Farida. (dw/sindonews.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*