IMG-20140325-WA0003Teheran, LiputanIslam.com — Rakyat Indonesia patut berbangga pada Ammar Fauzi, mahasiswa Indonesia di Iran yang berhasil menorehkan prestasi gemilang di bidang filsafat dan mistisme Islam. Pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, ini berhasil menjadi doktor pertama dari Indonesia di bidang studi Filsafat dan Mistisisme Islam di Iran.

Ammar Fauzi berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka promosi doktor yg berlangsung di Auditorium kampus Al-Musthafa International University (MIU) di kota Qom, Ahad 2 Maret 2014. Mantan Ketua Uumum Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran periode 2010-2011 ini menyabet predikat cum laude setelah disertasinya yang berjudul “Ta‘thil dar Erfan-e Eslami” (Agnoseology in Islamic Mysticism), berhasil dipertahankan di hadapan para guru besar bidang Teologi, Filsafat dan Mistisisme Islam serta tim penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Muhammad Bagir Tahriri, Prof. Dr. Amininejad dan Prof. Dr. Muhmmad Ali Rezapour.

“Ia layak menyandang gelar daneshmand (ilmuwan),” tutur anggota tim penguji, Prof. Dr. Amininejad memberikan apresiasi tinggi kepada IRIB Indonesia usai ujian disertasi.

“Ta‘thil dar Erfan-e Eslami” atau ilmu ketidaktahuan dalam Mistisisme Islam adalah sebuah interpretasi mutakhir dari tradisi Mistisisme Teoritis aliran Ibnu Arabi yang dielaborasikan dengan Filsafat Mistisisme Imam Khomeini.

Di bawah bimbingan dua promotor guru besar Mistisisme Teoretis Islam, Prof. Dr. M. Mehdi Gorjian dan Prof. Dr. Abolfazl Kiashemshaki, Ammar Fauzi mengajukan sebuah teori baru di bidang Mistisisme Teoretis sebagai kritik sekaligus titik temu dua pendekatan kontemporer, yaitu pendekatan Qom dan Shiraz.

“Teori agnoseologi dapat meneguhkan keutuhannya dalam menangani sejumlah problem logika baik di dunia pemikiran Islam maupun Barat, seperti prinsip non-kontradiksi dan inkonsistensi inheren,” ujar Prof Dr. Ali Amininejad.

Qom hingga kini menjadi pusat ilmu-ilmu keislaman dan humaniora, termasuk bidang Filsafat dan Mistisisme Islam. Sejumlah tokoh ilmuwan terkemuka lahir dari kota ilmu ini seperti Murtadha Mutahhari, Javadi Amoli, M.T. Misbah Yazdi dan lainnya. Di kota ini pula terdapat sekitar 200-an mahasiswa Indonesia yang menempuh studi aktif di berbagai strata dan program studi. Delapan orang di antaranya kini tengah merampungkan program doktoral di Al-Musthafa International University (MIU).

Kepada LiputanIslam.com yang mewawancarainya via SMS, Selasa petang (25/3), Ammar Fauzi mengungkapkan kelegaannya dapat menyelesaikan ujian disertasinya dengan baik seraya menyatakan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukungnya selama menjalani pendidikan di Iran, baik keluarga, kerabat, teman-teman maupun para pejabat KBRI di Iran.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada mereka,” kata Ammar Fauzi dalam pesan SMS-nya.

Menurut penuturannya, ia memerlukan waktu hampir 3 tahun untuk menyelesaikan disertasinya tersebut. Adapun hambatan yang diterimanya selama itu di antaranya adalah birokrasi yang agak ketat, subyek penelitian yang relatif baru serta hipotesis yang berbeda dengan arus utama studi filsafat dan mistisisme hingga memerlukan pengujian awal beberapa kali. (ca/IRIB Indonesia)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*