model mongolKualalumpur, LiputanIslam.com — Mahkamah Agung Malaysia hari Selasa (13/1), mengukuhkan hukuman mati atas 2 terpidana kasus pembunuhan model dan penerjemah asal Mongolia pada tahun 2006 lalu. Kasus ini menjadi perhatian publik karena terkait dengan beberapa tokoh politisi Malaysia.

Sebagaimana dilaporkan BBC News, kedua terpidana, anggota kepolisian khusus Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar telah dibebaskan dari dakwaan oleh pengadilan tinggi tahun 2013 silam, namun Mahkamah Agung membatalkan keputusan itu dan mengukuhkan kembali hukuman yang ditetapkan pengadilan yang lebih rendah sebelumnya.

Mayat Altantuya Shaariibuu, seorang model dan penterjemah asal Mongolia, ditemukan di hutan pada tahun 2006 dalam kondisi mengerikan. Kepalanya ditembak dan tubuhnya diledakkan dengan granat.

Penyidik menangkap Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar, polisi pengawal Wakil Perdana Menteri saat itu, Najib Razak, atas dugaan pembunuhan Shaariibuu. Pangamat politik Abdul Razak Baginda yang juga dikenal dekat dengan Najib Razak juga ditangkap, namun kemudian dibebaskan.

Najib sendiri membantah rumor keterlibatannya dalam kasus ini dan mengaku tidak pernah bertemu Shaariibuu. Sebaliknya, Baginda lah yang kemudian mengaku memiliki hubungan khusus dengan model Mongolia itu.

Pada tahun 2009, Najib Razak terpilih menjadi perdana menteri. Pada tahun yang sama kedua bekas pengawal pribadinya itu dijatuhi hukuman mati.

Kasus ini menjadi perhatian publik Malaysia, namun hanya sebatas rumor di balik pintu. BBC News menyebut, kasus ini bahkan menjadi bahan lelucon di masyarakat.

“Beberapa orang Malaysia mengatakan kepada saya dengan becanda bahwa mereka akan “diledakkan seperti Shaariibuu” jika berani mengkritik kebijakan subsidi dan mobil nasional,” lapor jurnalis BBC.

Pada tahun 2013 pengadilan tinggi membebaskan kedua terpidana dari hukuman setelah menganggap bukti-bukti dakwaan mereka lemah. Mereka bahkan dinyatakan tidak memiliki motif untuk membunuh.

Beberapa kelompok kampanye menyebutkan bahwa Shaariibuu dibunuh untuk membungkam keterlibatannya dalam intrik-intrik politik elit penguasa. Salah seorang terpidana dalam persidangan mengklaim dirinya sebagai kambing hitam saja, namun menolak menyebutkan siapa penanggungjawab pembunuhan itu.

Salah seorang terpidana tidak hadir dalam persidangan hari Selasa. Pengacaranya mengaku tidak mengetahui keberadaannya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*