lumpur lapindonJakarta, LiputanIslam.com — Bencana akibat luapan lumpur Lapindo yang telah berlangsung sejak tahun 2007 hingga kini belum juga berhenti. Pemerintah sendiri tidak bisa memastikan kapan bencana ini berakhir. Sudah lebih dari 7 tahun, luapan dari lumpur panas itu terus meluas hingga ke luar Peta Area Terdampak (PAT), yang merupakan kawasan yang menjadi tanggung jawab PT Minarak Lapindo Jaya.

“Sudah banyak seminar mengenai itu. Ada yang bilang 10 tahun, ada 20 tahun, atau 30 tahun,” kata Direktur Perkotaan Ditjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum, Dadang Rukmana, seperti dilansir Detik.com, (29/9/2014).

Dadang mengatakan, beberapa teknologi sudah banyak digunakan untuk menghentikan luapan lumpur panas tersebut. Tapi tetap saja, semburannya terus terjadi.

“Sudah dimasukan beton, tetap saja keluar. Sekarang masih keluar, tapi nggak sebesar dulu,” tambahnya.

Sepert yang terjadi beberapa pekan yang lalu, warga Desa Gempolsari, Sidoarjo, panik akibat luapan lumpur panas mengalir ke pekarangan rumah mereka, dari kolam penampungan lumpur di titik 68 wilayah desa tersebut.

Sekitar lima rumah warga terendam halamannya karena lumpur panas tersebut, setelah sejak pagi luapan lumpur mengalir cukup deras dari bekas jebolan tanggul di titik 68. Ironisnya, warga yang rumahnya terancam luberan lumpur adalah yang belum terbayarkan ganti ruginya dari PT. Minarak Lapindo Jaya. Akhirnya mereka kembali mendesak penyelesaian pembayaran ganti rugi yang belum dibayarkan oleh perusahaan tersebut.

Sulastri, salah seorang warga yang halaman rumahnya tergenang lumpur, mengatakan telah meminta Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) segera memperbaiki tanggul untuk mencegah meluasnya luberan lumpur yang mengganggu aktivitas warga.

“Sangat mengganggu sekali toh mas, karena lumpurnya panas, kita semua takut, panik juga. Jam enam pagi, setengah jam itu sudah meluas lumpur itu. Sampai sekarang yang masuk halaman itu lima rumah, terus yang lainnya itu yang belakang-belakang rumah, pekarangan-pekarangan belakang rumah. Ya sangat memprihatinkan kita mau pindah ya juga pindah kemana, sama sekali belum dibayar,” ujarnya.

Sampai kapan, masyarakat Sidoarjo harus hidup dalam kekhawatiran akibat berlarut-larutnya bencana? Dan sampai kapan, PT. Minarak Lapindo Jaya membiarkan masyarakat yang menjadi korban lumpur panas tidak diberikan ganti rugi? (ph)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL