death-penalty_full_600Oklahoma, LiputanIslam.com — Otoritas Oklahoma, Amerika Serikat menunda eksekusi mati terhadap salah satu narapidananya. Namun, akhirnya narapidana ini tewas akibat serangan jantung sekitar 40 menit setelah eksekusi mati ditunda.

Penundaan ini dilakukan karena ada masalah dengan obat suntik yang digunakan dalam eksekusi mati. Sekitar 13 menit setelah narapidana bernama Clayton Lockett ini disuntik, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan mulai bergumam. Dokter yang ada di lokasi langsung menghentikan proses eksekusi mati.

“Kami meyakini bahwa pembuluh darahnya meledak dan obatnya tidak bekerja seperti seharusnya. Direktur memerintahkan penundaan eksekusi,” terang juru bicara penjara Oklahoma, Jerry Massie seperti dilansir Reuters, Rabu (30/4).

Namun tak diduga, sekitar 40 menit setelah proses eksekusi ditunda, Lockett terkena serangan jantung hingga akhirnya tewas. Saat itu, diduga obat yang disuntikkan ke dalam tubuh Lockett mulai menyebar ke dalam tubuhnya.

Pelaksanaan eksekusi mati Lockett telah mengalami penundaan selama beberapa minggu karena adanya gugatan hukum terkait obat-obatan baru yang digunakan dalam proses suntik mati. Pengacara narapidana berargumen bahwa pemerintah menahan informasi penting terkait obat baru yang digunakan.

Pekan lalu, Mahkamah Agung Oklahoma mencabut penundaan eksekusi mati Lockett dan seorang narapidana lainnya. Menurut Mahkamah Agung, pemerintah telah memberikan informasi yang cukup soal obat baru yang digunakan dalam eksekusi mati.

Narapidana lainnya, Charles Warner yang dijadwalkan untuk dieksekusi mati sekitar 2 jam setelah Lockett pada Selasa (29/4) waktu setempat, mendapat penundaan kembali selama 14 hari karena masalah ini.

Sejumlah negara bagian di AS berjuang mencari penyuplai obat-obatan dan zat kimia yang biasa digunakan dalam eksekusi mati para narapidana. Hal ini setelah para penyuplai utama obat suntik mati, yang sebagian berasal dari Eropa, menerapkan larangan penjualan obat-obatan jika tujuannya untuk eksekusi mati.

Obat-obatan baru yang kini digunakan beberapa negara bagian AS bisa memicu rasa sakit tak tertahankan sebelum narapidana tewas. Hal ini dianggap sebagai tindakan kejam dan pelanggaran konstitusi AS.(ca/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL