lng tangguhLiputanIslam.com — Saat forum Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) tahun ini menaruh perhatian khusus pada kerjasama energi berdasarkan perubahan struktur pasar energi dunia, negara-negara anggota mempertimbangkan peningkatan perdagangan gas alam cair (LNG) di wilayah ini.

APEC memiliki sejumlah kelompok kerja di dalamnya, dan masalah perdagangan LNG tengah menjadi perhatian besar dalam Kelompok Kerja Energi (Energy Working Group) forum ini. Pada tanggal 2 September lalu EWG diperintahkan oleh menteri-menteri energi ekonomi anggota APEC untuk memperkenalkan rancangan fasilitas perdagangan LNG yang bertujuan untuk memastikan “kepentingan pemasok dan konsumen LNG” dan “meningkatkan pasar LNG APEC yang berkembang dan sehat”.

Rancangan tersebut disambut baik oleh para menteri ekonomi dan energi APEC melalui pernyataan bersama mereka yang dibuat setelah pertemuan tanggal 7-8 November. Ini sekaligus menunjukkan dukungan bagi pengembangan pasar LNG di kawasan.

Masa depan perkembangan pasar LNG di Asia Pasifik, bagaimanapun, adalah salah satu yang sangat kompleks untuk diprediksi, terutama ketika menyinggung negara-negara  terbesar di kawasan ini seperti Rusia, Cina dan Amerika Serikat.

Menurut laporan International Gas Union (IGU), perdagangan LNG pada tahun 2013 mencapai 236,8 MT, sedikit di bawah rekor 241,5 MT pada 2011. Ini menunjukkan adanya lonjakan permintaan gas global,  sementara Asia diharapkan menjadi daerah terbesar pertumbuhan pasokan LNG.

“Permintaan gas global tengah melonjak, terutama didorong oleh preferensi yang berkembang bagi penggunaan energi rendah karbon dan ketidakpastian atas kebijakan nuklir Korea dan Jepang. Dunia menunggu-nunggu pasokan LNG baru dari Amerika Serikat, meskipun ada beberapa ketidakpastian tentang jumlah aktual proyek pencairan yang akan mulai menghasilkan,” kata Presiden IGU Jerome Ferrier pada bulan Maret lalu sebagaimana dikutip oleh media massa.

Laporan IGU juga menyatakan bahwa profitabilitas pasar LNG Asia-Pasifik juga akan dijamin oleh meningkatnya permintaan Cina. Direktur Inisiatif Keamanan Energi Brookings, Tim Boersma, memiliki pandangan yang sama tentang masalah ini. Menurutnya permintaan LNG di kawasan ini akan terus meningkat dalam beberapa tahun bahkan dekade mendatang. Terutama Cina, India, dan beberapa negara lainnya masih memiliki banyak ruang untuk meningkatkan kebutuhan LNG-nya.

Sejak penemuan cadangan “shale gas” (cadangan gas alam di dekat permukaan bumi dan terpencar-pencar namun berdekatan letaknya) di Amerika, negara yang menjadi importir utama LNG global ini telah aktif mengembangkan perannya sebagai eksportir LNG. Dan menurut Boersma, Cina bisa menjadi pembeli potensial dari LNG Amerika.

“Saya pasti berpikir bahwa LNG Amerika bisa dijual ke pembeli Cina,” kata Boersma.

Sementara itu pada bulan Oktober, perusahaan energi Rosneft Rusia menyatakan pihaknya mempertimbangkan pasokan gas alam cair Rusia ke Cina melalui CNPC (China National Petroleum Corporation).

Berbicara tentang peran Rusia sebagai eksportir LNG ke China, Boersma menyebutkan bahwa “LNG Rusia memang harus bersaing dengan LNG lainnya, misalnya dari Australia dan Amerika Serikat.”

China, bagaimanapun, dipandang sebagai suatu hal yang sangat tidak mungkin oleh Kepala Pusat Studi Keamanan Energi di Institut AS dan Kanada, Andrei Korneyev.

“Ini (ekspor LNG AS ke China) mahal, karena kargo LNG harus diangkut melintasi Pasifik dan mengingat harga saat ini sedang jatuh, hal ini tidak menguntungkan,” kata Korneyev kepada RIA Novosti baru-baru ini.

Sebaliknya bagi proyek LNG Rusia, Sakhalin 2, Korneyev mengatakan “itu adalah menguntungkan karena gas tersebut diangkut ke Jepang dan itu adalah jarak yang sangat pendek.” Jarak antara Timur Jauh Rusia dan China juga jelas jauh lebih pendek dari jarak antara Amerika Serikat dan China.

Korneyev juga mencatat “Amerika Serikat tidak memiliki cadangan gas alam yang cukup untuk menjamin profitabilitas proyek tersebut, terutama mengingat biaya transportasi yang meningkat dan menipisnya cadangan shale gas“. Apa yang dilakukan Amerika, sebut Korneyev, adalah mencoba untuk menakut-nakuti pesaing, yang dimungkinkan untuk mempengaruhi faktor harga di bawah kedok “negosiasi”. Tapi pasokan yang stabil dalam jangka panjang atas dasar sumber daya Amerika yang ada dengan jarak yang jauh, adalah sesuatu yang tidak realistis.

Dengan China sebagai harapan utama untuk ekspansi perdagangan LNG lebih lanjut di Asia-Pasifik, mengingat keadaan saat ini, perspektif Rusia sebagai eksportir LNG tampaknya lebih cerah dibandingkan Amerika Serikat.

Dan tentu saja tidak boleh dikesampingkan peran Indonesia sebagai salah satu eksportir LNG utama dunia. Tinggal bagaimana para pengambil kebijakan negeri ini memanfaatkan pelung ini dengan baik.

Pada akhir tahun 2011 terdapat 18 negara eksportir LNG di dunia dengan Indonesia menduduki tempat ketiga dengan jumlah produksi sebanyak 21,4 MT, hanya kalah dari Qatar (75,5 MT) dan Malaysia (25 MT).(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL