Sana’a, LiputanIslam.com–Sebuah LSM yang bertanggungjawab melaporkan peperangan di Yaman mengakui bahwa mereka telah mengurangi jumlah kematian di Yaman dalam laporan mereka. Pengurangan itu dilakukan dari 5 ke 1.

Lembaga Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED) awalnya memperkirakan bahwa terdapat 10.000 orang yang tewas di Yaman. Angka ini kurang lebih sama dengan yang dilaporkan oleh World Health Organization (WHO). Survei WHO sendiri dikutip oleh sejumlah badan PBB dan media dunia.

Namun, kini ACLED mengakui bahwa perkiraan angka kematian sebenarnya berkisar antara 70.000 sampai 80.000.

Perkiraan ACLED ini tidak termasuk ribuan warga Yaman yang tewas akibat dampak perang secara tidak langsung, seperti kelaparan dan penyebaran wabah difteri dan kolera. UNICEF bahkan melaporkan pada bulan Desember 2016 lalu bahwa 1 anak Yaman meninggal setiap 10 menit karena wabah dan kelaparan.

Menurut Nicolas J.S. Davies, jurnalis dan penulis buku Blood On Our Hands: the American Invasion and Destruction of Iraq, angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi daripada perkiraan terbaru ACLED.

Seperti yang ia jelaskan dalam laporan di Consortium News, lembaga-lembaga ini menghitung jumlah kematian hanya dengan mengutip laporan media, catatan rumah sakit, dan sumber-sumber lainnya yang “pasif”.

“Seketat apapun pencatatatannya, itu tidak akan bisa menghitung kematian dengan sempurna,” tulisnya.

“Inilah sebabnya mengapa para ahli epidemiologi telah mengembangkan teknik statistik untuk menghasilkan perkiraan yang lebih akurat tentang berapa banyak orang yang benar-benar terbunuh di zona perang dunia. Dunia masih menunggu penghitungan asli dari jiwa manusia yang terenggut di perang Yaman buatan Saudi-AS itu, dan, tentu saja, semua perang pasca 9/11,” paparnya di MintPress News. (ra/mintpress)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*