ukraine-city-hallKiev, LiputanIslam.com — Lebih dari 15.000 warga Ukriana timur melarikan diri ke Rusia menghindari konflik bersenjata. Demikian keterangan pimpinan kelompok separatis Ukraina.

“Sejauh yang kami ketahui, jumlah warga yang menjadi pengungsi adalah sekitar 15.000 orang,” kata pemimpin separatis Denis Pushilin.

Sekjen Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) Lamberto Zannier, yang bertemu Menlu Rusian Sergei Lavrov di Moskow, Rabu (11/6), mengatakan rencananya pergi ke Rostov, Rusia selatan, untuk menemui para pengungsi Ukraina. Demikian laporan Itar-Tass hari ini (12/6).

“Saya rasa akan berguna untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dengan berbicara dengan para saksi mata konflik di Ukraina timur agar mendapatkan pemahaman yang jelas dan tidak bias tentang apa yang terjadi di sana,” kata Lavrov usai pertemuan.

Anggota tim Ombudsman Rusia Ella Pamfilova mengatakan hari Rabu bahwa pengungsi Ukraina yang masuk ke wilayah Krimea juga telah meningkat tajam.

“Di sana ada sejumlah besar pengungsi yang masuk dari Ukraina, dari kota Slavyansk dan Kramatorsk, ke Krimea,” kata Pamfilova di hadapan parlemen Rusia.

“Kami telah menangani 2.000 pengungsi, namun kesulitan menangani para pengungsi yang lainnya,” tambahnya.

Menurut keterangan Pushilin militer Ukraina terus melancarkan serangannya dan menolak untuk membuka jalur pengungsian bagi warga sipil yang hendak meninggalkan Ukraina.

“Slavyansk dan Kramatorks terus-menerus ditembaki oleh artileri militer Ukrainan,” kata Pushilin.

Ia menambahkan bahwa kelompok separatis tengah mempertimbangkan untuk membentuk pasukan pengawal perbatasan sendiri.

Ia menyebutkan bahwa militer Ukraina menghindar untuk bertempur langsung dengan para militan separatis dan hanya melakukan serangan-serangan artileri terhadap kota-kota berpenduduk padat, termasuk Mariupol.

“Mariupol adalah kota Republik Rakyat Donetsk. Meski kami kehilangan kontrol atas sebagian fasilitas di dana termasuk bandara,” tambah Pushilin.

270 Tewas Selama Operasi Militer
Sementara itu kementrian kesehatan Ukraina hari Rabu (11/6) menyebutkan bahwa sebanyak 270 orang tewas selama berlangsungnya operasi militer di wilayah provinsi Donetsk dan Luganks yang memisahkan diri. Sebanyak 713 lainnya luka-luka.

“Sejak mulainya konflik, 225 orang telah tewas dan 576 menjalani pengobatan akibat luka-luka di Provinsi Donetsk. 150 orang masih dirawat di rumah sakit-rumah sakit. Di Provinsi Lugansk 45 orang tewas dan 137 orang luka-luka,” demikian keterangan kementrian kesehatan Ukraina sebagaimana dilaporkan ITAR-TASS.

Menteri kesehatan Oleg Musy juga menyebutkan bahwa sebanyak 10 rumah sakit di Donetsk dan Lugansk tidak bisa menjalankan fungsinya secara penuh karena situasi konflik.(ca/voice of russia)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL