ebola outbreakCanberra, LiputanIslam.com — Larangan visa bagi warga negara-negara terjangkit wabah virus ebola yang dikeluarkan pemerintah Australia menuai kecaman. Pemerintah Sierra Leone menyebutnya sebagai “konter produktif” dan “diskriminatif”. Larangan itu juga mendapat kecaman Sekjen PBB dan Amnesty International.

Seperti dilaporkan BBC News, hari Senin (27/10) lalu pemerintah Australia mengumumkan pencabutan visa tinggal sementara bagi warga yang datang dari negara-negara Afrika Barat yang terjangkit wabah ebola dan permohonan visa baru dari negara-negara itu tidak akan diproses. Sedangkan pemilik visa tinggal tetap dari negara-negara itu harus menjalani proses karantina selama 21 hari sebelum diberangkatkan.

Menteri imigrasi Scott Morrison, hari Selasa (28/10),  mengatakan kepada parlemen bahwa peraturan tersebut ditujukan untuk melindungi warga Australia. Namun Alpha Kanu, menteri informasi Sierra Leone, salah satu negara yang terserang wabah terparah, menyebut peraturan itu sebagai “terlalu keras”. Ia menyebut, upaya pencegahan yang diterapkan di bandara Freetown, Siera Leone, telah berhasil mencegah siapapun yang tertular virus ebola untuk terbang ke luar negeri.

“Ini adalah diskriminatif. Bukannya menindas ebola, melainkan 24 juta penduduk Sierra Leone, Liberia dan Guinea. Tentu saja itu bukan cara yang baik,” kata Kanu kepada Reuters.

Sementara itu Sekjen PBB Ban Ki-moon menyebut pembatasan bepergian akan menghambat upaya memberantas ebola.

AS Puji Perkembangan Pemberantasan Ebola

Di sisi Dubes AS untuk PBB Samantha Power, memuji perkembangan pemberantasan ebola di negara-negara Afrika Barat.

Dalam kunjungannya ke Liberia, Selasa (28/10), Samantha menyebutkan terjadinya peningkatan penguburan aman terhadap korban tewas akibat ebola sebagai awal yang baik bagi penghentian penyebaran virus mematikan itu.

“Kita akan melihat hasilnya,” kata Samantha.

Pemerintah AS berulangkali menyebutkan bahwa upaya paling efektif untuk menghentikan penyebaran ebola adalah menangani sumber penyebarannya dan menolak upaya pembatasan bepergian.

Dalam konperensi pers bersama Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf di Monrovia, kemarin (28/10), Samantha  mengatakan bahwa pesan AS kepada pemerintah Liberia adalah bahwa ebola akan dikalahkan.

Samantha menyebutkan, selain penguburan mayat secara aman, laboratorium-laboratorium dan klinik-klinik bergerak telah banyak membantu mempercepat penanganan korban virus ebola.

Sementara Presiden Liberia mengatakan bahwa pembatasan bukanlah cara yang tepat untuk menangani krisis global seperti ebola.

Di sisi lain, menanggapi kecaman publik atas penanganan ebola yang terlalu keras di AS, Presiden Barack Obama kemarin menyebutkan bahwa penanganan ebola tidak boleh menyurutkan semangat para pahlawan, yaitu para pekerja kesehatan sukarela Amerika, untuk pergi ke Afrika. Untuk itu ia meminta penanganan terhadap pekerja kesehatan yang kembali dari Afrika tidak terlalu keras.

“Amerika tidak ditentukan oleh ketakutan, melainkan oleh harapan,” kata Obama.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL