cipaliJakarta, LiputanIslam.com–Tol Cipali sepanjang  116,75  kilometer melewati hamparan tanah subur dan persawahan dengan irigasi teknis. Pembangunan irigasi tersebut menguras dana yang sangat besar melalui APBD maupun APBN. Namun kini lahan subur dan lumbung pangan itu terancam oleh kedatangan para investor.

Seperti diberitakan situs segalaberita.com, para pengembang kawasan industri telah mengincar kawasan persawahan di seputar tol Cipali untuk dijadikan kawasan industri dan kompleks perumahan.

“Saat ini sudah ada beberapa pengembang kawasan industri yang tertarik dan melakukan kajian studi kelayakan dengan kami untuk membangun di sekitar ruas Tol Cipali,” ujar Senior Associate Director and Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo, , di Jakarta,

Menurut Arief pengembang-pengembang kawasan industri tersebut sebelumnya sudah memiliki portofolio serupa di kawasan Bekasi, Cikarang, dan Karawang. Mereka tertarik melakukan ekspansi ke kawasan di sekitar Tol Cipali.

“Tak hanya pengembang khusus kawasan industri, pengembang yang selama ini fokus kepada bisnis properti juga tertarik untuk diversifikasi membangun kawasan industri di sekitar tol baru tersebut,” buka Arief.

Dia menambahkan, Kabupaten Subang merupakan lokasi yang paling diincar karena lebih dekat dengan pengembangan kawasan industri sebelumnya yakni Kabupaten Karawang. Jadi, pertumbuhan yang akan berjalan nanti bersifat organik. Terus meluas dari kawasan sebelumnya.

Beroperasinya Tol Cipali,  telah menjadi faktor lain yang mendorong pengembang mengincar ekspansi kawasan industri akibatnya harga lahan yang semakin selangit. Saat ini, dalam catatan Cushman & Wakefield Indonesia per kuartal dua 2015, harga lahan kawasan industri di jalur utama Bekasi, Cikarang, dan Karawang sudah menembus harga rerata Rp 2,34 juta per meter persegi atau melonjak 21,9 persen dibanding periode yang sama tahun 2014 lalu.

Permintaan lahan kawasan industri seluas 143,7 hektar kuartal dua tahun ini merupakan terbesar sejak kuartal keempat 2014 yang hanya seluas 108,5 hektar. Permintaan didominasi oleh perusahaan-perusahaan asal Asia seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Bila pemerintah tidak tegas menghalangi, sudah tentu program swasembada beras nasional dan mata pencaharian penduduk setempat akan terancam. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL