tkiJakarta, LiputanIslam.com — Seorang TKI wanita disiksa majikannya di Arab Saudi. Dia membutuhkan pertolongan dengan berupaya meminta bantuan dari KJRI Jeddah. Nur disiksa karena hendak pergi dari majikannya karena sakit. Tapi sang majikan tak terima dan malah memukulinya.

“Saat bekerja d majikan tersebut, ibu Nur minta izin pulang ke penampungan karena alasan sakit dan akan digantikan sementara oleh rekannya Yeni. Tapi sang majikan tak terima dengan alasan, majikannya merasa di rugikan karena telah membayar uang (BAKSIS) sebesar 500 real kepada sodari Enur, orang yang memperkenalkan Ibu Nur dengan majikan tersebut,” jelas Aktivis Buruh Migran Indonesia Arab Saudi, Abdul Hadi Akram dalam keterangannya, Sabtu (12/4).

Menurut Hadi, peristiwa itu terjadi pada 7 April lalu. Nur oleh majikannya malah difitnah sebagai tukang sihir dan akan meracuni dirinya ketika disuruh membuatkan segelas teh (shai).

“Kemudian majikan perempuan tersebut menyiksa Ibu Nur. Tak cukup sampai di situ,  majikan lelaki juga memukul dan memecut ibu Nur dengan ikat pinggang. Dan yang lebih tragis dan tidak berkeprimanusian, saat ibu Nur sedang dipecut oleh majikan lelaki, majikan perempuan dengan santainya memanaskan setrikaan (alat gosok kain), setelah cukup panas, kemudian memukulkannya ke tubuh dan wajah ibu Nur, beruntung ibu Nur melindungi wajahnya,” jelas Abdul Hadi.

Hadi menjelaskan, untuk bagian wajah, Hanya bagian pipi yang meleleh terbakar dan akan meninggalkan bekas ‘codet’. Setelah itu majikannya merampas uang 40 real dan handphone milik Nur.

“Tak percaya hanya uang 40 real yang dimiliki Ibu Nur, dengan sangat tak sopan dan tak pantas, majikannya melucuti pakaian Ibu Nur, berprasangka ada uang yang di sembunyikan di pakaian dalam Ibu Nur. Dan setelah itu barulah Ibu Nur dipersilakan pergi oleh majikan tersebut,” jelas Abdul Hadi.

Posisi Nur yang merupakan TKI ilegal amat rentan. Dia pun takut-takut ke KJRI. Dia datang ke penampungan warga Indonesia. Kemudian seorang TKI juga datang dan melihat kondisi Nur

“Bunda Yeni dan teman-teman di penampungan bermusyawarah, bagaimana mencari solusi keadilan dan hak yang seharusnya Ibu Nur dapatkan, meskipun statusnya yang illegal. Setelah bermusyawarah, Bunda Yeni dan teman-teman memutuskan dibawa ke KJRI,” jelas Abdul Hadi.

Sayangnya, setelah di KJRI Nur belum mendapat pertolongan maksimal. Nur memang ditampung dan mendapat perawatan namun untuk keadilannya atas penyiksaan belum mendapat respons.

“Ini membutuhkan perhatian,” jelas Hadi.

Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari KJRI soal nasib Nur.(ca/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL