foto: eksplorasi.co

foto: eksplorasi.co

Jakarta, LiputanIslam.com--Pertamina menyatakan bahwa kuota BBM bersubsidi habis pada pertengahan Desember 2014. Namun, pemerintah meminta Pertamina tetap menjual Premium dan Solar sesuai harga yang telah ditetapkan pada 17 November 2014. Sebelumnya, Pertamina sempat menyatakan akan menjual BBM dengan harga keekonomian, meskipun harga BBM bersubsidi telah dinaikkan Rp.2000. Hal ini memunculkan pertanyaan,  berapa sebenarnya harga BBM?

Pemerintah justru meminta agar publik tidak mempertanyakan hal ini.

“Sudah (sepakat), jadi Pertamina menyanggupi (menutup kekurangan subsidi). Pemegang saham menyetujui tadi. Sudah. Itu saja, jangan dikorek-korek lagi. Ini sesuatu yang sudah diputuskan,” tegas Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Sudirman Said, seperti dikutip Kompas (3/12). Menurut Sudirman, kepentingan saat ini terkait BBM bersubsidi adalah masyarakat tidak khawatir soal pasokan dari Premium dan Solar itu.

Menurut Edy Burmansyah dari Martapura Institute (MI), pemerintah memang tidak terbuka mengungkap berapa sebenarnya harga keekonomian BBM. Dalam penelitian MI, tanpa kenaikan Rp2000, sesungguhnya pemerintah telah meraih ‘keuntungan’ dari selisih antara jatah subsidi dalam APBN dengan harga jual BBM, yaitu sebesar Rp95,95 Triliun. Artinya, dengan kenaikan Rp2000, pemerintah sama sekali tidak memberikan subsidi BBM kepada rakyat. (baca: Pemerintah Wajib Mensubsidi BBM)

Sebaliknya, pemerintah menyatakan, meski telah dinaikkan Rp2000, sebenarnya pemerintah masih memberikan subsidi. Namun, berapa harga keekonomian (harga pokok) BBM, pemerintah selalu memberikan data yang berbeda.

Pada 3 November 2014, seperti dikutip bareksa.com, Menkeu mengatakan,  “Dengan harga minyak mentah di $80 per barel seperti sekarang ini, harga teoretis BBM Premium ada di level sedikit di atas Rp9.000 per liter. Kalau $90 per barel, di Rp9.500-Rp10.000 per liter.”

Pada 10 November 2014, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Hanung Budya, mengatakan harga keekonomian premium pada November 2014 sebesar Rp9.200 per liter. Hal itu berarti, premium masih diberikan subsidi sebesar Rp700 per liter, setelah harganya dinaikkan Rp2.000 menjadi Rp8.500 per liter.

Ini berbeda dengan pernyataan Wakil Presiden Komunikasi Pertamina Ali Mundakir. Menurutnya,  pada harga minyak 80 dollar AS per barrel, maka harga produk BBM jenis premium di pasar internasional 90 dollar per barrel.

“Dengan kurs Rp 12.000 per dollar AS, maka harga keekonomian premium adalah Rp 8.600 per liter,” ucapnya seperti dikutip Kompas (18/11). (baca: Faisal Merasa Dibohongi Pertamina)

Menurut Edy Burmansyah, simpang siurnya harga yang disampaikan pemerintah ini memunculkan pertanyaan.

Sseandainya pemerintah mengklaim premium (ron 88) masih disubsidi sebesar Rp1000, maka harga keekonomiannya adalah Rp9500, atau hampir setara dengan Pertamax (ron 92) yang dijual seharga Rp9600. Jika subsidi Rp1500,  ini lebih aneh lagi. Masa Premium yang lebih rendah kualitasnya dijual dengan harga Rp10000, lebih mahal dari Pertamax yang hanya Rp9600?” kata Edy kepada liputanislam.com. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL