Venezuela MarchLiputanIslam.com — Tanpa dipublikasikan oleh media-media internasional, jutaan rakyat Venezuela turun ke jalan-jalan pertengahan Februari lalu menyatakan dukungan terhadap pemerintah atas upaya kudeta terhadap pemerintahan Presiden Nicholas Maduro. Pada saat yang hampir sama Presiden AS Barack Obama mengeluarkan ancaman keras:

“Kami berdiri bersama warga negara demokratis yang tengah dalam bahaya, sebagaimana rakyat Venezuela.”

Kedua hal tersebut terkait pada satu peristiwa, yaitu rencana kudeta terhadap Presiden Maduro yang mengalami kegagalan pada tanggal 12 Februari lalu.

Adalah wartawan independen senior Thierry Meyssan yang membongkar rencana kudeta itu di situs Voltairenet.org, 24 Februari lalu. Dalam artikel berjudul “Obama failed his coup in Venezuela“, ia mengungkapkan kudeta tersebut dijalankan melalui operasi inteligen dan militer dengan kode “Operation Jericho” yang selesai direncanakan pada tanggal 6 Februari dan direncanakan akan diimplementasikan pada tanggal 12 Februari 2015.

Operasi itu dikoordinir oleh National Security Council (NSC), sebuah lembaga super-body yang dipimpin oleh Presiden dan beranggotakan Wakil Presiden, Menteri Pertahanan, Menlu, Menkeu dan Penasihat Keamanan Presiden. Kepala Staff Gabungan Militer dan Direktur Inteligen Nasional menjadi penasihat lembaga itu, dan dalam pertemuan-pertemuannya, pejabat-pejabat tinggi dimintai pendapatnya.

Pelaksana “Operasi Jericho” tersebut adalah agen CIA Ricardo Zuñiga yang mengepalai pos rahasia CIA di Havana, Kuba, dimana ia membina agen-agen yang menjadi oposisi Kuba sembari membangun hubungan negosiasi dengan regim Castro.

Seperti operasi-operasi inteligen lain, AS tentu saja tidak ingin kelihatan dalam keterlibatannya. Dalam operasi di Venezuela AS menggunakan tangan NGO National Endowment for Democracy (NED) dan 2 operatornya International Republican Institute yang mewakili ‘aspsirasi’ kelompok nasionalis dan Freedom House and the International Center for Non-Profit Law yang mewakili ‘aspirasi’ kelompok sosialis.

Sebagai tambahan, seperti biasa AS menjalin kerjasama dengan pemerintahan sekutu. Dalam hal ini AS menggaet Jerman untuk mendapatkan dukungan NATO, Kanada yang mengontrol bandara internasional Caracas, Israel yang spesialis pembunuhan politik dengan target Maduro dan pendukung setia Hugo Chavez, serta Inggris yang bertanggungjawab penggalangan opini publik.

Terakhir mereka memobilisasi jaringan politik yang akan mengakui pemerintahan baru hasil kudeta, di antaranya Senator Marco Rubio, mantan presiden Chili Sebastián Piñera, 2 mantan Presiden Colombia Alvaro Uribe dan Andres Pastrana, 2 mantan Presiden Mexico Felipe Calderón dan Vicente Fox, serta mantan Presiden Spanyol José María Aznar.

Untuk memicu kudeta, AS berhasil meyakinkan perusahaan-perusahaan Venezuela untuk menyimpan komoditi-komoditi pokok daripada mendistribusikannya kepada rakyat yang membutuhkan. Idenya adalah menciptakan kepanikan publik dengan membuat antrean-antrean panjang serta provokasi tentang ketidakbecusan pemerintah menjaga distribusi bahan-bahan pokok.

Untuk memperkuat aksi ekonomi, pada tanggal 18 Desember 2014 AS telah menjatuhkan sanksi kepada beberapa tokoh Venezuela yang dianggap sebagai musuh. Sementara sejak awal tahun 2014 lalu AS telah menggelontorkan dana kepada kelompok-kelompok demonstran yang bertindak anarkis hingga memicu berbagai aksi kekerasan yang berujung pada kematian 43 orang dan menciptakan ketakutan di jalanan ibukota.

Sementara itu untuk operasi militernya akan dipimpin oleh Jendral Thomas W. Geary dari komando SOUTHCOM di Miami, dan Rebecca Chavez dari kantor Dephan Pentagon. Perusahaan jasa keamanan Academi yang dahulu terkenal dengan nama Blackwater yang kini dipimpin oleh Admiral Bobby R. Inman (mantan Direktur NSA) dan John Ashcroft (mantan Jaksa Agung) juga dilibatkan.

Untuk memperlancar operasi sebuah pesawat Super Tucano disamarkan sebagai pesawat militer Venezuela dengan tugas membom istana kepresidenan dan beberapa target lain termasuk kantor Kementrian Pertahanan, kantor Dinas Inteligen ALBA, serta televisi Telesur. Pesawat itu diparkir di Bogota, Colombia. Markas operasi tersebut berada di kantor Kedubes AS di Bogota dengan partisipasi langsung Dubes Kevin Whitaker dan wakilnya Benjamin Ziff.

Para pemimpin baru paska kudeta juga telah disiapkan, meliputi pejabat-pejabat sipil dan militer aktif maupun yang sudah pensiun. Merekalah yang akan mengumumkan diri sebagai pemerintah baru paska kudeta pada tanggal 12 Februari. Mereka dipimpin oleh politisi dan mantan anggota parlemen María Corina Machado. Pada tanggal 26 ia menggelar pertemuan di rumahnya bersama komplotan kudeta termasuk para operator asing.

María Machado adalah pemimpin Súmate, asosiasi yang menuntut referendum yang gagal terhadap pemerintahan Hugo Chávez tahun 2004. Meski gagal, ia masih bisa diterima oleh Presiden George W. Bush di Gedung Putih pada tahun 2005.

Untuk memfasilitasi kudeta, Maria menggelar simposium “Citizen Power and Democracy today” di Caracas 26 Januari 2015 yang dihadiri oleh hampir seluruh tokoh pelaku kudeta dari internal Venezuela maupun luar negeri.

Masih beruntung bagi Presiden Maduro dan rakyat Venezuela, inteligen militer Venezuela yang masih berada di bawah kontrol Maduro berhasil mendeteksi rencana kudeta itu. Sejak upaya pembunuhan terhadap Maduro tahun lalu, inteligen mengawasi ketat Maria Machado dan kawan-kawannya, dan itu mengantarkan kepada penggagalan rencana kudeta.

Bulan Mei 2014 lalu kejaksaan Venezuela menuduh María Corina Machado, Gubernur Henrique Salas Römer, mantan diplomat Diego Arria, pengacara Gustavo Tarre Birceño, bankir Eligio Cedeño, dan pengusaha Pedro M. Burelli, terlibat dalam rencana pembunuhan terhadap Maduro dan kudeta terhadap pemerintah. Namun karena kurang bukti tuduhan itu dicabut. Meski demikian inteligen terus memantau pergerakan mereka.

Sehari menjelang “Hari H” tanggal 11 Februari 2015, Maria dan seorang agen Mossad ditangkap. Yang lain ditangkap sehari kemudian. Pada tanggal 20 Januari Walikota Caracas Antonio Ledezma juga ditangkap.

Bagi Venezuela, persekongkolan yang dilakukan AS dan sekutu-sekutunya bukanlah barang baru. Pada tahun 2002 Presiden Hugo Chavez bahkan pernah dikudeta oleh kelompok sipil-militer binaan AS. Selanjutnya pada tahun 2007 AS mencoba menggelar ‘revolusi warna’ yang gagal. Dan terakhir adalah tahun lalu, ketika AS mengorganisir aksi-aksi demonstrasi anarkis yang mengakibatkan puluhan orang meninggal.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*