special_court_for_lebanonLiputanIslam.com — “Apa yang terjadi terjadilah, bukan karena kita tidak memiliki kemampuan untuk memperkirakan dampak dari “Pengadilan Khusus Lebanon“, atau karena kita tidak bisa membongkar agen-agen yang telah disusupkan di dalamnya. Apa yang telah diperingatkan 9 tahun lalu kini terus terjadi, dan dengan intensitas yang semakin kuat,” tulis Ibrahim al-Amin, seorang kolumnis Lebanon di situs media Al Akhbar, 25 April lalu.

Setelah beberapa tahun mereda namun tetap menggerogoti keuangan Lebanon yang tengah krisis, STL kembali mengaum. STL kini memutuskan untuk memperbesar kewenangannya sekaligus memaksa rakyat Lebanon untuk tetap diam atas semua kesewenang-wenangannya,” tambah Ibrahim.

STL (Special Tribunal for Lebanon) adalah pengadilan internasional yang dibentuk PBB untuk mengadili pembunuhan mantan perdana menteri Rafiq Hariri tahun 2005. Tidak pernah terjadi dalam sejarah, satu pembunuhan seorang mantan pejabat di negara kecil seperti Lebanon (penduduk Lebanon kurang dari 5 juta jiwa) memaksa PBB membentuk pengadilan khusus. Bahkan pembunuhan pemimpin negara-negara besar yang tengah menjabat pun tidak pernah. Tidak ada pengadilan internasional atas pembunuhan Perdana Menteri India Indira Gandhi, Presiden Pakistan Zia ul Haq hingga pembunuhan Presiden Amerika John F. Kennedy.

Tapi STL menjadi “penting”, karena ada tujuan di baliknya: menghancurkan gerakan perlawanan anti-Israel Lebanon yang dipimpin Hizbollah. Sejauh ini STL telah menetapkan 4 orang anggota Hizbollah sebagai tersangka pembunuhan Hariri.

Apa yang membuat Ibrahim geram dan menulis artikel yang menyerang STL adalah adanya upaya sistematis kelompok politik Lebanon untuk menindas media yang dipimpinnya, Al Akhbar, yang merupakan media pendukung gerakan “Perlawanan”.

STL memanggil awak media dan pemimpin Al-Akhbar dan New TV untuk dimintai keterangan, kurang dari 24 jam setelah pengumuman pencalonan Samir Geagea sebagai kandidat presiden mendatang pada tgl 4 April lalu. Geagea adalah tokoh yang sangat anti terhadap gerakan “Perlawanan” dan pembunuh perdana menteri Rashid Karami. Pemanggilan Al Akhbar oleh STL dan pengumuman Samir tentu bukan karena kebetulan, ada pesan politik yang disampaikan, yaitu pengumuman perang oleh STL dan blok politik anti “Perlawanan”.

Beberapa pejabat Lebanon pendukung STL pun ramai-ramai mendukung pemanggilan itu, mulai dari Presiden, menteri hukum, Samir Geagea hingga mantan presiden yang ayahnya menjadi korban pembunuhan, Saad Hariri, dengan alasan pemanggilan itu bisa mengungkap kebenaran tentang pembunuhan. Namun bagi Al Akhbar, pemanggilan tersebut merupakan bentuk intimidasi.

Pemanggilan itu juga terjadi tidak lama setelah pemerintah Saudi memblokir situs Al Akhbar. Itu juga terkait setelah Israel mengajukan protes kepada PBB tentang “pelanggaran Lebanon” atas perbatasan Israel, yang menurut Israel berdasarkan laporan yang ditulis oleh Ibrahim dari Al Akhbar yang disebutnya sebagai “jurnalis orangnya Hizbollah”. Itu juga berkaitan dengan sikap presiden dan menteri hukum yang mengabaikan pengadilan pers atas Al Akhbar dan menggantinya dengan hukum kriminal.

Selama bertahun-tahun Al Akhbar adalah media yang gigih menyoroti sisi negatif STL yang telah menjadi kuda troya yang ditempatkan oleh zionis internasional di jantung Lebanon. Dan kini STL menyatakan akan mengganti sistem hukum Lebanon dengan “sistem hukum internasional”, yang memungkinkan STL memenjarakan seorang wartawan. Lebih jauh, STL bahkan telah berusaha mengintimidasi seluruh sektor di industri media Lebanon.

Secara konstitusi STL tidak memiliki legitimasi karena tidak mendapatkan dukungan parlemen dan hanya disetujui oleh pemerintahan Fuad Siniora yang pro-Amerika pada tgl 1 Maret 2009. Motif politik di balik pendirian pengadilan ini juga sangat jelas dengan apa yang terjadi dalam “penyelidikan” atas serangan bom yang menewaskan Rafiq Hariri tgl 14 Februari 2005. Awalnya United Nations International Investigation Commission (UNIIIC) yang dibentuk PBB untuk menyelidiki kasus ini dan menjadi pendahulu STL, menuduh Suriah terlibat dalam serangan itu dan memerintahkan penangkapan 4 perwira tinggi Lebanon yang dikenal dekat dengan Suriah. Pada saat yang sama, aksi-aksi politik digelar oleh kubu politik pro-Amerika untuk mengusir tentara penjaga perdamaian Suriah di Lebanon.

Namun setelah pasukan Suriah (pemegang mandat Liga Arab untuk mengamankan Lebanon dari perang sipil), meninggalkan Lebanon dan 4 jendral pro-Suriah menjalani penahanan hingga secara riel menghancurkan pengaruh politik Suriah atas Libanon, tuduhan itu dicabut, dan berubah arah kepada Hizbollah. Hizbollah pun mengutuk keputusan tersebut dan bertekad akan melindungi anggotanya yang menjadi sasaran dakwaan STL.

Hizbollah, sebaliknya menuduh Israel sebagai pelaku pembunuhan Hariri dan telah menyerahkan sejumlah besar alat-alat bukti untuk membuktikan klaimnya, termasuk rute dan intensitas  penerbangan drone-drone mata-mata Israel di sekitar lokasi pembunuhan Hariri, yang mengindikasikan Israel telah mempersiapkan serangan terhadap Hariri. Dalam satu insiden, sekelompok penyidik STL yang tengah berusaha mendapatkan data pasien di sebuah klinik di kawasan yang dihuni orang-orang Syiah, diusir oleh para wanita pendukung Hizbollah yang menuduh para penyidik STL tengah mencari alat rekayasa untuk menjatuhkan Hizbollah.

Hal ini menunjukkan bagaimana seriusnya masalah yang dihadapi Hizbollah dan gerakan “Perlawanan” oleh keberadaan STL. Seorang diplomat Amerika bahkan pernah sesumbar: “Kami hanya butuh satu nama anggota Hizbollah (untuk dijadikan sebagai tersangka), tidak peduli ia hanya seorang sopir atau tukang sapu, dan kami siap untuk menghabisi Hizbollah!”

Sejauh ini ancaman itu memang belum terbukti, bahkan Hizbollah pada bulan Januari 2011, justru berhasil menumbangkan kekuasaan perdana menteri Saad Hariri yang menolak membahas keberadaan STL. Namun keberadaan STL tetap menjadi ancaman serius bagi gerakan “Perlawanan”, yang dimungkinkan oleh keberadaan kelompok-kelompok oportunis yang rela menjual kepentingan negaranya demi kepentingan Amerika dan gerakan zionis internasional.

Hizbollah dan gerakan “Perlawanan” yang telah berjasa membebaskan sebagian besar wilayah Lebanon dari pendudukan Israel dan yang telah berhasil mengembalikan harga diri bangsa-bangsa Arab dengan mengalahkan Israel, kini justru menjadi tertuduh di negerinya sendiri. Semuanya karena adanya STL.

“Kuda Troya” adalah istilah yang diambil dari legenda sejarah Yunani, ketika orang-orang Yunani mengirim kuda kayu raksasa yang didalamnya berisi prajurit terlatih, ke dalam kota Troya yang saat itu tengah terlibat perang dengan Yunani dan berhasil mematahkan serangan-serangan Yunani dengan gemilang. Pada malam hari, para prajurit di dalam kuda kayu raksasa itu keluar dan dengan diam-diam membuka pintu gerbang sehingga pasukan-pasukan Yunani berhasil menerobos masuk dan melakukan serangan dadakan yang mematikan.

Kasus STL ini menjadi penting dalam konteks Indonesia saat ini yang tengah menghadapi pemilihan presiden bulan Juli 2014 nanti. Rakyat Indonesia tidak boleh memilih capres yang diduga kuat bisa menjadi “kuda troya” bagi kepentingan zionis internasional yang tidak akan segan-segan menghancurkan Indonesia sebagaimana mereka lakukan terhadap beberapa negara Islam lain.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*