Sumber: Kompasiana

Jakarta, LiputanIslam.com — Deputi V Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jaleswari Pramodhawardhani menyebutkan radikalisme masih menjadi ancaman nyata bagi Indonesia, bahkan peningkatan terus terjadi sejak 10 tahun lalu.

“Sepuluh tahun terakhir ini, radikalisme tidak hanya muncul di institusi pemerintah, tetapi juga di institusi masyarakat, termasuk di bidang pendidikan. Semua membuktikan ancaman radikalisme ini nyata,” kata Jaleswari dalam diskusi bertema “Menangkal Radikalisme, Menjaga Indonesia” yang digagas Partai NasDem di Jakarta, Jumat (25/10).

Oleh karena itu, kata Jaleswari, pemerintahan Jokowi pada periode kedua ini akan memprioritaskan pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berlandaskan Pancasila.

“Soal radikalisme kita tahu bahwa alarm kita sudah berbunyi. Saat ini pun pembangunan Jokowi 5 tahun ke depan adalah SDM yang berlandaskan Pancasila,” ujarnya.

Baca juga: Mahfud MD Minta Masjid Syiarkan Pesan Damai

Sementara, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Waryono Abdul Ghafur, ini juga mengatakan bahwa melawan kelompok-kelompok radikal yang sering menggunakan agama itu ternyata tidak efektif kalau menggunakan jargon Pancasila.

Lanjut dia, ada semacam counter wacana dan counter discuss. Akan tetapi, kalau kelompok-kelompok radikal tersebut yang dari awal sudah anti-NKRI maupun anti-Pancasila dan dijawab atau dilawan dengan Pancasila tentu akan kontraproduktif atau sia-sia saja.

“Jadi, harus kita jawab dengan jargon agama yang mereka juga pakai agama. Kalau mereka itu sudah anti-NKRI maupun anti-Pancasila lalu malah kita suguhi dengan Pancasila, ya, makin resisten,” kata mantan Wakil Syuriah Nahdatul Ulama (NU) Kota Yogyakarta itu. (Ay/Antara)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*