rupiahJakarta, LiputanIslam.com — Meningkatnya ketegangan politik yang terjadi di Ukraina membuat pergerakan dolar berbalik arah. Tingginya permintaan mata dolar sebagai alternatif investasi yang lebih aman (safe haven) diperkirakan bakal terus menekan nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan Selasa (4/2), rupiah ditutup melemah 5 poin (0,04 persen) pada level 11.597,5. Sepanjang perdagangan, nilai tukar rupiah memang tampak bergerak sangat volatile. Rupiah, yang sempat menembus level 11.600-an, mendadak kembali ke level 11.597 setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan sebagian tentaranya meninggalkan Semenanjung Crimea, Ukraina.

Analis investasi, Lukman Leong, menyatakan pergerakan rupiah dalam waktu dekat cukup sensitif dengan perkembangan krisis politik Ukraina. Pasalnya, dalam situasi kritis, posisi dolar sebagai investasi bernilai aman cenderung menyebabkan permintaannya meningkat. Tak ayal, potensi kekeringan likuiditas akan berdampak negatif pada nilai tukar rupiah. “Dolar akan terus bergerak konsolidatif,” tuturnya.

Meskipun demikian, nilai tukar rupiah tetap mendapat sentimen positif dari rendahnya angka inflasi pada Februari yang hanya 0,25 persen. Angka inflasi tersebut akhirnya membangun keyakinan bahwa tingkat konsumsi masyarakat masih sebanding dengan tingkat penawaran yang tersedia di dalam negeri. Maka tak lagi diperlukan impor berbagai produk. “Semakin rendah inflasi, semakin berharga mata uang tersebut,” Lukman menambahkan.

Pernyataan Gubernur Bank Indonesia yang berniat menaikkan kembali suku bunga acuan menambah sentimen positif laju rupiah. Namun hal itu tetap harus menunggu perkembangan situasi yang terjadi di Ukraina. Pada hari ini, Rabu 5 Maret 2014, rupiah diperkirakan bergerak volatile di level 11.550-11.650.(CA/tempo.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*