krisis parisParis, LiputanIslam.com — Tujuh orang dikabarkan tewas, Jumat (9/1) kemarin, mengakhiri drama penyerangan di kota Paris yang dimulai dengan serangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo pada hari Rabu (7/1).

Empat korban yang tewas adalah sandera yang ditembak tersangka penyerangan di sebuah supermarket di Paris, sedangkan 3 lainnya adalah tersangka serangan Charlie Hebdo dan penyandera di supermarket. Demikian Russia Today melansir, Jumat petang.

Beberapa bunyi ledakan terdengar dan asap terlihat keluar dari sebuah percetakan di Dammartin-en-Goele di timur laut, Paris, ketika polisi menyerbu tempat ini. Sebelumnya polisi mengepung tempat ini setelah diketahui 2 tersangka serangan Charlie Hebdo bersembunyi di sini. Dikabarkan kedua tersangka tewas dalam serbuan itu.

Seorang polisi dikabarkan juga mengalami luka-luka dalam penyerbuan itu, namun kondisinya tidak kritis.

Menurut laporan Russia Today, keberadaan para tersangka serangan Charlie Hebdo diketahui berkat laporan pegawai percetakan itu yang mengirim pesan kepada keluarganya.

Sementara itu 5 orang tewas dalam aksi penyanderaan di sebuah supermarket setelah penyandera menembak mati 4 sanderanya dan polisi menembak mati penyandera. Sementara 4 sandera lainnya dalam kondisi luka serius. Demikian laporan Le Monde dikutip Russia Today.

Sementara itu sejumlah pengamat mencurigai aksi-aksi serangan di Paris ini adalah sebuah operasi “bendera palsu”, atau operasi inteligen berupa aksi kekerasan yang ditujukan untuk membentuk opini publik yang menguntungkan pihak penyerang dan merugikan lawan. Setelah sebelumnya wartawan senior Pepe Escobar mengungkapkan hal itu (baca rubrik Analisis), penulis dan blogger terkenal Gilad Atzmon juga mengungkapkan hal serupa.

Dalam postingan terakhir di blognya, gilad.co.uk, Kamis (8/1), Gilad Atzmon mengatakan, “sementara semua pakar terorisme percaya aksi serangan Charlie Hebdo kemarin adalah pekerjaan profesional, tampak sangat amatiran bahwa para pelaku meninggalkan ID mereka. Sejak kapan teroris membawa ID saat menjalankan aksinya?”

“Boleh jadi serangan kemarin tidak ada hubungannya dengan ‘teroris mujahidin’. Sangat mungkin ini adalah operasi bendera palsu. Siapa yang berada di balik ini? Silakan berimajinasi,” tambah Gilad.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*