ebola siera leoneFreetown, LiputanIslam.com — Pemerintah Sierra Leone mencabut larangan keluar rumah yang telah berlangsung selama 3 hari. Pemerintah menyebut larangan tersebut sebagai berhasil menangkal penyebaran virus ebola.

Sebagaimana dilaporkan oleh BBC News, Senin (22/9), larangan tersebut berakhir pada Minggu malam, dan pemerintah memutuskan tidak melanjutkannya.

Sierra Leone adalah salah satu negara yang paling parah terserang wabah virus ebola dengan korban tewas mencapai 550 orang dari keseluruhan 2.600 korban tewas akibat virus mematikan ini di beberapa negara Afrika Barat, sejak munculnya wabah ini bulan Februari lalu.

Larangan keluar rumah di Sierra Leone diterapkan sejak Jumat pagi (1/9), dimana hampir 6 juta penduduk negara itu dilarang meninggalkan rumahnya masing-masing. Pada saat yang sama sekitar 30.000 petugas kesehatan berkeliling ke perkampungan-perkampungan untuk memberikan perawatan kepada warga yang terjangkit virus, serta membagi-bagikan sabun kesehatan.

Pejabat kesehatan, Sarian Kamara, mengatakan pemerintah berhasil menemukan 22 kasus baru penderita virus ebola selama masa larangan keluar rumah itu.

“Jika saja mereka tidak ditemukan, mereka mungkin sudah banyak menularkan penyakit,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa antara 60 sampai 70 penderita Ebola telah dikuburkan dalam 2 hari terakhir. Penanganan mayat korban ebola dianggap faktor penting pencegahan virus mematikan tersebut.

Sebelumnya pada hari Minggu (21/9) kepala pusat gawat darurat Sierra Leone Stephen Gaojia mengatakan bahwa ada kemungkinan kuat bahwa larangan keluar rumah akan diperpanjang.

“Bahkan meskipun sejauh ini langkah (larangan keluar rumah) ini sukses, di beberapa kota besar seperti Freetown dan Kenema, hal ini belum diketahui hasilnya,” katanya.

Larangan keluar rumah yang dilakukan Sierra Leone merupakan langkah paling tegas yang pernah diambil oleh negara-negara yang terjangkit virus. Beberapa waktu lalu WHO meminta negara-negara yang terjangkit virus ebola untuk membatalkan larangan bepergian karena dianggap tidak efektif menanggulangi penyebaran virus ebola.

Sementara itu seorang pendeta asal Spanyol dievakuasi dari Sierra Leone, setelah diketahui terjangkit virus ebola. Pesawat militer yang membawa Manuel Garcia Viejo tinggal landas dari bandara Freetown hari Minggu (21/9) malam menuju Madrid.

Garcia Viejo adalah warga Spanyol kedua yang terjangkit virus ini setelah bulan lalu seorang pendeta Spanyol lainnya yang bekerja sebagai relawan, meninggal oleh virus ebola yang menjangkitinya saat bertugas di Liberia.

Dalam perkembangan lainnya, pemerintah Liberia menambah kapasitas penangangan virus ebola di ibukota Monrovia, dari 250 tempat tidur menjadi 1.000 tempat tidur, untuk mengantisipasi kenaikan jumlah pasien.

Di Nigeria, negara berpenduduk terbesar di Afrika, asosiasi guru setempat mendesak pemerintah untuk menunda dimulainya tahun ajaran baru akibat merebaknya virus ebola. Namun seruan itu tidak ditanggapi Presiden Goodluck Jonathan.

Di antara negara-negara yang terkena wabah, Nigeria adalah yang terkecil jumlah korbannya, yaitu 8 orang meninggal dari 20 penderita virus.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL