mariupol battleKiev, LiputanIslam.com — Presiden Ukraina Petro Poroshenko menyerukan perdamaian setelah pasukan separatis menggempur kota pelabuhan penting, Mauripol.

Seperti dilansir BBC News, berbicara setelah pertemuan darurat dengan para pejabat keamanan di Kiev, Minggu (25/1), Poroshenko menyebut bahwa solusi satu-satunya bagi konflik di Ukraina timur adalah dengan menerapkan perjanjian damai yang ditandatangani di Minsk bulan September tahun lalu.

Sementara itu dalam pertempuran hari Sabtu (24/1) di Muripol, setidaknya 30 orang tewas. Angka korban itu semakin menambah panjang daftar korban konflik yang telah menembus angka 5.000 jiwa sejak Ukraina menggelar operasi militer untuk membungkam gerakan separatis di wilayah Donetsk dan Luhansk yang berbatasan dengan Rusia. PBB juga menyebut bahwa lebih dari sejuta orang telah terusir dari tempat tinggalnya akibat konflik tersebut.

Pemimpin separatis Alexander Zakharchenko mengatakan pasukannya telah memulai serangan untuk merebut kota Mariupol, namun membantah sebagai penyebab tewasnya 30 warga kota itu sebagaimana dituduhkan pemerintah Ukraina.

“Serangan ini, sayangnya, dilakukan oleh para teroris yang didukung Rusia,” kata Poroshenko menyebut aksi serangan hari Sabtu.

Menanggapi tuduhan itu, Kemenlu Rusia mengatakan bahwa yang terjadi di Mariupol merupakan “akibat dari pelanggaran yang dilakukan Ukraina atas perjanjian damai Minsk bulan September 2014, dengan terus-menerus menyerang pemukiman penduduk”.

Mariupol yang berpenduduk sekitar 500.000 jiwa berada antara Krimea dan wilayah yang dikuasai separatis. Menguasai kota ini berarti mengontrol perairan Laut Azov. Maka sejak bulan Agustus lalu pasukan separatis berusaha merebutnya dari pasukan Ukraina.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*