militer korutSeoul, LiputanIslam.com — Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un memerintahkan militer bersiap menggunakan senjata nuklir kapan saja dalam menghadapi peningkatan ‘ancaman dari musuh-musuh’, demikian menurut laporan kantor berita negara KCNA, Jumat (5/3).

Komentar yang disampaikan melalui kantor berita itu semakin meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea setelah Dewan Keamanan PBB memberlakukan sanksi-sanksi berat terkait program nuklir Pyongyang pada hari Rabu.

Kim menyampaikan instruksi tersebut saat menghadiri latihan militer yang melibatkan peluncur roket yang baru dikembangkan menurut laporan KCNA. Laporan itu tidak menyebutkan tanggal latihan namun menyebut bahwa Korea Selatan berada dalam kisaran jangkauan senjata-senjata baru itu.

Seperti dikutip KCNA, Kim mengatakan Korea Utara harus “meningkatkan kualitas dan kuantitas kekuatan nuklirnya” dan menekankan “perlunya penyiapan hulu ledak nuklir agar selalu siaga untuk ditembakkan sewaktu-waktu untuk pertahanan nasional”.

“Sekarang saatnya bagi kita mengubah mode perintangan militer pada musuh menjadi serangan pre-emptive satu dalam setiap aspek.”

Korea Utara sebelumnya mengancam akan melakukan serangan pre-emptive terhadap seterunya seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Pada Kamis, Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengungkapkan bahwa Pyongyang menembakkan sejumlah proyektil di perairan 150 km dari garis pantai sebagai respon atas sanksi PBB.

Juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan, yang mengurusi hubungan dengan Utara, mengatakan komentar terbaru Kim tidak membantu dan mungkin ditujukan kepada warga di dalam negeri untuk mendorong semangat di tengah sanksi PBB.

Sementara juru bicara Kementerian Pertahanan Amerika Serikat Komandan Bill Urban merespons laporan itu dengan mengatakan : “Kami mendesak Korea Utara untuk menahan diri dari aksi provokatif yang meningkatkan ketegangan dan sebagai gantinya fokus memenuhi kewajiban dan komitmen internasionalnya.

Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang bersiap memulai pembicaraan Jumat untuk membahas pengerahan sistem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan.

Cina dan Rusia menentang penempatan THAAD karena sistem tersebut mempunyai radar kuat yang mampu menembus sampai jauh ke dalam dua negara tersebut, tapi Korea Selatan dan Amerika Serikat mengatakan itu diperlungan dalam merespons peningkatan ancaman rudal dari Korea, demikian seperti dilansir kantor berita Reuters.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL