pengadilan milerPyongyang, LiputanIslam.com — Pengadilan Korea Utara (Korut) akhirnya menjatuhkan kerja keras selama 6 tahun atas dakwaan melakukan “tindakan-tindakan permusuhan”.

Kantor berita Korut KCNA sebagaimana dikutip Associated Press dan BBC News, Minggu (14/9), melaporkan bahwa Matthew Miller telah mengakui memiliki “ambisi gila” untuk tinggal di penjara Korut sehingga dapat mengetahui situasi HAM di Korut.

Otoritas Korut juga mengklaim Miller telah mengoyak visa tinggalnya dan meminta suaka kepada Korut. Selain itu juga disebutkan Miller adalah buronan dari AS karena keterlibatannya dengan Wikileaks, kelompok yang telah membocorkan rahasia-rahasia negara AS.

Setelah sidang yang berlangsung selama 90 menit, hukuman pun dijatuhkan, selanjutnya Miller diborgol dan dikawal keluar ruangan.

Matthew Miller ditangkap bulan April lalu, tidak lama setelah tiba di Korut sebagai turis.

AS menuduh Korut sengaja menahan warga AS untuk dijadikan sebagai alat tawar-menawar terkait dengan program nuklir Korut. AS sendiri telah mengatakan bahwa membebaskan Miller dan 2 warga AS lainnya yang masih ditahan Korut, adalah “prioritas utama”.

Di masa lalu, AS berhasil membebaskan beberapa warganya yang ditahan setelah mengirimkan utusan khusus ke Korut. Beberapa waktu lalu 2 wartawan AS yang ditahan, berhasil mendapat “pengampunan khusus” setelah mantan Presiden Bill Clintonterbang ke Korut dan menemui pemimpin tertinggi negara itu.

AS telah menawarkan untuk mengirim Robert King sebagai utusan khusus, namun Korut belum mengijinkannya.

Dalam wawancara dengan televisi CNN beberapa waktu lalu yang difasilitasi pemerintah Korut, Miller mengatakan: “Saya akan mengatakan bahwa saya telah bersiap diri untuk melanggar peraturan di Korut, sebelum datang ke sini.”

Sementara dalam wawancara dengan Associated Press, yang juga difasilitasi pemerintah Korut, ketiga warga AS yang ditahan menyerukan AS untuk mengirim pejabat tinggi ke Korut untuk membebaskan mereka.

Dua warga AS lainnya yang ditahan adalah Kenneth Bae yang dijatuhi hukuman kerja keras selama 15 tahun, serta Jeffrey Fowle yang ditangkap setelah meninggalkan kitab Injil di penginapannya.

Pejabat Kemenlu AS, Daniel Russel kepada Reuters minggu lalu menuduh Korut menggunakan warga AS sebagai alat permainan untuk tujuan politik.

“Mereka menggunakan manusia, dalam kasus ini warga negara AS, sebagai pion,” kata Russel.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL