tubektomi mautNew Delhi, LiputanIslam.com — Seorang wanita tewas dan 15 lainnya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah sebelumnya mereka menjalani operasi tubektomi (sterilisasi) di sebuah klinik pemerintah (puskesmas) di negara bagian Chhattisgarh pada hari Senin (10/11).

Sebagaimana dilaporkan BBC News, Rabu (12/11), ini adalah peristiwa “sterilisasi maut” kedua dalam minggu di India setelah sebelumnya sebanyak 13 orang wanita tewas (sebelumnya diberitakan LI sebanyak 11 orang) setelah menjalani sterilisasi di klinik lainnya di negara bagian yang sama, pada hari Sabtu (8/11). Sementara lebih dari 60 orang wanita lainnya harus menjalani perawatan intensif akibat operasi itu.

Aksi-aksi protes pun digelar warga akibat insiden-insiden ini, sementara pemerintah telah memerintahkan dilakukannya penyelidikan intensif.

Insiden “sterilisasi maut” terakhir terjadi di klinik pemerintah di distrik Bilaspur, negara bagian Chhattisgarh, India. Wanita yang meninggal itu berasal dari suku Baiga yang dilindungi pemerintah. Jumlah suku ini yang terus berkurang di antara penduduk India yang bertambah, sebenarnya membuat tindakan sterilisasi kepada mereka merupakan tindakan ilegal.

Belum ada keterangan lebih rinci mengenai operasi sterilisasi massal pada hari Senin kecuali jumlah korbannya. Adapun operasi sterilisasi massal hari Sabtu dilakukan oleh seorang dokter dan asistennya terhadap 83 orang wanita di Desa Pendari, Distrik Bilaspur.

Menurut aturan, seorang dokter hanya boleh melakukan operasi sterilisasi sebanyak 35 orang sehari. Setelah menjalani operasi, para wanita itu mengeluh sakit-sakit dan demam yang disertai muntah-muntah, serta tekanan darah yang anjlok.

Sebuah tim dokter telah dikirim dari New Delhi untuk membantu menangani korban “sterilisasi maut” itu. Seorang dokter, Anjan Trikha, mengatakan kepada wartawan bahwa penyebab kematian-kematian itu masih belum diketahui pasti.

“Penyebab kematian baru diketahui setelah semua hasil laboratorium dan otopsi diketahui,” katanya.

“Perhatian utama kami saat ini adalah mencegah tidak ada lagi korban selanjutnya,” tambahnya.

Para pejabat kesehatan lokal membantah bertanggungjawab atas insiden-insiden maut tersebut, sementara beberapa sumber menyebutkan bahwa para awak medis telah mendapatkan tekanan dari pemerintah untuk melakukan program sterilisasi seintensif mungkin, meski dengan sumber daya terbatas.

Pemerintah telah menawarkan santunan senilai sekitar Rp 70 juta bagi seluruh keluarga korban. Sementara partai oposisi Congress menyerukan aksi mogok dan pengunduran diri Menteri Kesehatan Amar Agrawal.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL