warga Manado mengungsi (foto: Antara)

warga Manado mengungsi (foto: Antara)

Korban banjir bandang dan longsor di Sulawesi Utara terus bertambah. Hingga Kamis sore dilaporkan sudah 16 orang tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor tersebut. Korban tewas itu tersebar di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara.

Pada Rabu (15/1/2014) siang, Desa Tateli, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, diterjang banjir bandang. Terjangan air itu disertai kayu dan batu-batu. Puluhan rumah yang berada di tepi Sungai Tateli terseret banjir yang disertai lumpur tebal tersebut.

“Air datang secara tiba-tiba, hanya dalam sekejap air sudah sampai di pinggang. Saya hampir terseret,” ujar Ndoro, warga Tateli Lingkungan 1.

Ndoro bersama ratusan pedagang lainnya hampir menjadi korban ketika Pasar Tateli ikut disapu banjir bandang tersebut. Dilaporkan, tiga warga hanyut terseret banjir. Satu korban sudah ditemukan dua jam setelah kejadian. Hingga saat ini, ratusan rumah di Tateli masih terendam lumpur. Ribuan warga mengungsi ke gereja dan bangunan aman lainnya.

“Sudah puluhan tahun saya tinggal di sini, tetapi baru kali ini terjadi banjir seperti ini. Sebelumnya tidak pernah ada banjir begini,” ujar Pengki, yang rumahnya ikut dihajar banjir. Cuaca buruk dalam sepekan ini membuat banjir terjadi hampir di seluruh wilayah Sulawesi Utara.

Kota Manado pun tak luput dari banjir. Menurut situs Manado Today, salah satu penyebab banjir di kota Manado akhir-akhir ini, adalah drainase. Pasalnya, rata-rata drainase di Kota Manado tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Wakil ketua Komisi C Bidang Pembangunan, Benny Parasan SH, kepada wartawan mengatakan bahwa belakangan drainase sudah berubah fungsi sebagai tempat pembuangan sampah. “Perkerjaan rumah (PR) bagi pemerintah hingga ke kelurahan agar tak jenuh-jenuh melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah di selokan atau drainase supaya tidak terjadi pendangkalan serta tersumbat,” jelas Parasan.

Pusat Data Informasi dan Humas BNPB melaporkan, banjir dan tanah longsor Manado memaksa 4.000 warga mengungsi. Sebanyak 1.000 orang terisolir dan rumah rusak diperkirakan mencapai 1.000 unit. Kerusakan fisik lainnya adalah jembatan Kuwil putus, akses jalan Manado ke Tomohon putus akibat longsor.

Saat ini, sebagian besar banjir telah surut. Warga telah kembali ke rumah membersihkan rumahnya. Ratusan polisi dari Kesatuan Brigade Mobil Polda Sulut sudah dikerahkan untuk membantu warga. Berbagai alat berat juga diturunkan ke lokasi untuk menyingkirkan lumpur.(sumber: Kompas/Liputan6/ManadoToday)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL