martinPBB akhirnya membatalkan undangannya untuk Iran untuk berpartisipasi dalam konperensi Genewa II yang dirancang untuk menyelesaikan konflik berdarah di Suriah. Keputusan tersebut diambil setelah Iran berkukuh menolak syarat untuk menyetujui pembentukan pemerintahan sementara di Suriah. Demikian keterangan pers jubir PBB Martin Nesirky, di New York, Senin kemarin (20/1).

Keputusan tersebut hampir dipastikan merupakan buntut dari tekanan Amerika yang berulangkali menyatakan keberatan atas partisipasi Iran sebelum menyetujui syarat pembentukan pemerintahan sementara di Suriah. Padahal sehari sebelumnya Sekjen PBB Ban Ki Moon telah membuat pernyataan untuk mengundang Iran sebagai peserta konperensi setelah dirinya berbicara via telepon dengan Menlu Iran. Namun pada hari Senin Iran kembali menegaskan sikapnya untuk menolak syarat pembentukan pemerintahan transisi di Suriah.

Pemerintah Suriah dan kelompok oposisi utama dukungan barat National Coalition telah menyatakan kesediaannya untuk datang dalam konperensi, meski Presiden Suriah Bashar al Assad menyatakan pesimismenya atas hasil konperensi karena menganggap lawan perundingannya (oposisi) adalah kelompok-kelompok yang tidak memiliki legitimasi. Di sisi lain National Coalition yang sebelumnya ngotot tidak akan mengikuti konperensi jika Bashar al Assad tidak mundur terlebih dahulu, akhirnya memutuskan hadir setelah mendapat ancaman pemutusan hubungan oleh Amerika. Namun mereka telah menyatakan keberatan dengan kehadiran Iran yang tanpa syarat.

Meski demikian kehadiran Iran dalam konperensi yang dijadwalkan berlangsung selama 3 hari, masih dimungkinkan. Hal ini dikarenakan Iran hanya tidak diundang pada hari pertama konperensi.

“Dikarenakan Iran telah memilih untuk berada di luar kesepakatan dasar (pembentukan pemerintahan sementara), Iran telah memutuskan untuk tidak hadir pada pertemuan hari pertama,” kata Martin Nesirky.

Sementara itu, dalam satu kampanye negatif untuk mendeskreditkan pemerintahan Bashar al Assad di Suriah menjelang konperensi, media-media utama barat, BBC dan CNN, memberitakan pembantaian ribuan tahanan oleh regim Suriah. Sebanyak 55.000 foto dari 11.000 tahanan yang tewas dibunuh aparat pemerintah berhasil diselundupkan keluar oleh anggota militer yang membelot, demikian keterangan kedua media tersebut. Namun media Inggris lainnya, The Guardian justru mempertanyakan validitas berita yang awalnya berasal dari Qatar tersebut.(CA/BBC/Reuters/Al-Akhbar)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL