nagornoMinsk, LiputanIslam.com — Bentrokan berdarah terhebat dalam beberapa tahun terakhir, terjadi di wilayah Nagorno-Karabakh, Azerbaijan, yang merupakan wilayah “enclave” warga Armenia. Sebanyak 15 tentara tewas dalam beberapa hari terakhir.

Sebagaimana laporan BBC, pemerintah Azerbaijan mengklaim 12 tentaranya tewas dalam 4 hari terakhir bentrokan di wilayah itu. Sementara otoritas Armenia di Nagorno-Karabakh mengklaim 3 tentaranya tewas.

Pejabat Armenia menyebutkan presidennya akan bertemu presiden Azerbaijan minggu depan untuk meredam pertikaian.

Sebuah gencatan senjata ditandatangani 20 tahun lalu mengakhiri konflik berdarah selama 6 tahun yang menewaskan lebih dari 30.000 jiwa. Sejak itu kedua pihak saling menuduh sebagai pelaku pelanggaran gencatan senjata.

Setiap tahun ratusan orang termasuk warga sipil, tewas di sepanjang perbatasan antara  Nagorno-Karabakh dengan Azerbaijan akibat bentrokan atau karena tembakan penembak jitu.

Perdana Menteri Armenia Hovik Abrahamyan, mengumumkan hari Sabtu (2/8) bahwa Presiden Serzh Sargsyan akan bertemu Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, di kota peristirahatan Sochi, Rusia, akhir minggu depan.

Rusia yang menjadi penengah konflik kedua negara tahun 1994 menyatakan dalam situs resmi kementrian luar

“Kami melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa hari terakhir sebagai pelanggaran serius dari gencatan senjata dan bertekad untuk mencapai regulasi baru melalui langkah politik.”

“Kami menganggap eskalasi selanjutnya sebagai tidak bisa diterima,” tambah pernyataan tersebut.

AS yang menjadi mitra organisasi kerjasama dan keamanan Eropa (OSCE) juga menyatakan keprihatinannya atas situasi yang memburuk tersebut. Dalam pernyataan yang dirilis hari Jumat (1/8), pejabat senior AS James Warlick mengatakan, “Kami serius mencermati tindakant-tindakan kekerasan terakhir di sepanjang perbatasan. Gencatan senjata harus dihormati.”(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL