jihad islamLiputanIslam.com — Konflik Suriah membuat perubahan besar dalam peta sosial-politik di Gaza. Sikap kelompok Jihad Islam yang tetap menjaga konsistensinya melawan zionisme, membuat pengaruh kelompok ini semakin kuat di Gaza. Sebaliknya dengan Hamas, yang sempat “tergoda” untuk meninggalkan sekutu-sekutu anti-Israel-nya, membuat pengaruh kelompok ini mulai kehilangan kepercayaan publik Gaza. Akibatnya, persaingan antara Hamas dan Jihad Islam pun tidak terhindarkan.

Sebagaimana diketahui, ketika terjadi konflik di Suriah, Hamas meninggalkan Suriah yang selama itu telah menjadi “pelindung”-nya, dan memindahkan markas perjuangannya ke negeri yang justru memusuhi Suriah, yaitu Qatar, dan itu menjadi kampanye yang buruk bagi Hamas. Adapun Jihad Islam, tetap tinggal di Damaskus.

Beberapa hari yang lalu para pemimpin Hamas dan Jihad Islam harus bertemu untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di antara kedua kelompok yang dipicu oleh pemecatan terhadap Imam Masjid al-Khalil, Murid al-Qanouh. Murid, seorang anggota Jihad Islam, menuduh pemecatannya oleh Kementrian Agama pemerintahan Hamas didasarkan oleh alasan politis, meski kementrian agama menyebutkan alasan indisipliner.

Dalam beberapa kasus, konflik bahkan diwarnai adu jotos hingga tembak-menembak. Meski pada akhirnya pemimpin kedua kelompok berhasil menyelesaikan semua konflik itu, hal itu menunjukkan bahwa konflik antara kedua kelompok telah menjadi masalah yang sangat serius.

Pada pertengahan bulan Maret Sekjen Jihad Islam Ramadan Shallah muncul di TV Al-Mayadeen memuji para pemimpin Hamas yang disebutnya telah berhasil menghentikan pertikaian antara kedua kelompok, sekaligus menghentikan keuntungan yang diperoleh musuh karena pertikain internal di Gaza. Ia bahkan menyebutkan bahwa operasi militer “Menghentikan Kebisuan” yang digelar Jihad Islam terhadap Israel bulan lalu, dilakukan dengan dukungan Hamas.

Lebih jauh ia bahkan menyebutkan telah bertemu dengan pemimpin Hamas di luar negeri, Khaled Meshaal, di kantor Hamas di Qatar. Hal itu sekaligus mengkonfirmasi peran Jihad Islam menjadi mediator kedatangan para pejabat Hamas ke Iran. Setelah pernyataan tersebut, Ramadan Shallah bahkan muncul di televisi Qatar Al-Jazeera.

Namun kenyataan di lapangan berbeda dengan “pertunjukan televisi” tersebut. Perkelahian antara pengikut kedua kelompok terjadi di sebuah masjid di Khan Younis, 2 minggu lalu. Seorang anggota Jihad Islam yang berada di tempat kejadian menuturkan kepada media Lebanon Al Akhbar:

“Tiga pemuka masyarakat yang dikenal kuat di wilayah itu datang ke masjid, menyerang kami, dan akhirnya menendang kami keluar.”

Ia menolak menyebutkan identitasnya karena mengikuti perintah atasannya di Jihad Islam untuk tidak memperkeruh situasi.

“Para pemimpin kami menolak terlibat pertikaian dengan Hamas, bahkan meski kami yang menjadi korban. Jika kami membocorkan insiden ini ke media, mereka akan melakukan tindakan keras terhadap kami. Ini adalah insiden ke 5 yang terjadi dalam 1 bulan terakhir,” katanya.

Pertikaian lebih besar terjadi di Rafah bulan lalu, dan untuk pertama kalinya tuduhan “kelompok syiah yang berpindah keyakinan menjadi salafi” mulai diperdengarkan oleh pendukung Hamas terhadap pendukung JIhad Islam. Para pemimpin Jihad Islam pun harus menggelar jumpa pers untuk membantah tuduhan tersebut dan meyakinkan bahwa gerakan mereka adalah “gerakan perjuangan Sunni sejati yang menjalin hubungan baik dengan Iran”.

Namun insiden paling serius terjadi bulan Juni lalu, ketika seorang anggota polisi yang merupakan pendukung Hamas, menembak mati tokoh JIhad Islam, Raad Jundiyah.

JIhad Islam menyebutkan Jundiyah sebagai pejuang yang telah melakukan berbagai operasi militer melawan Israel dan berhasil melepaskan diri dari upaya pembunuhan oleh Israel.

Kepolisian Gaza yang berada di bawah kekuasaan pemerintahan Hamas, menolak bertanggungjawab atas insiden tersebut dengan menuduh Jundiyah telah menembak diri sendiri secara tidak sengaja.

Sebagai balasan atas insiden itu Jihad Islam telah memutuskan hubungannya dengan Hamas yang disusul dengan penembakan 9 rudal Grad Jihad Islam ke Israel. Israel membalas dengan menyerang fasilitas pelatihan Palestina dan mengancam akan menghentikan gencatan senjata.

Khawatir dengan kondisi yang tidak terkendali, Perdana Menteri dan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh pun memerintahkan penyelidikan atas insiden yang menewaskan Raad Jundiyah. Hasilnya, polisi mengaku telah melakukan penembakan terhadap Jundiyah dan meminta ma’af, meski tidak menyebutkan identitas penembaknya untuk menghindarkan tindakan balas dendam. Insiden ini pun diselesaikan dengan rekonsiliasi kedua kelompok.

Jubir Hamas Fawzi Barhoum, menyebutkan, apa yang membuat Hamas “marah” pada Jihad Islam adalah adanya kontak antara kelompok itu dengan pemerintah Mesir yang dianggap telah “melangkahi” Hamas. Sebagaimana diketahui, pemerintah Mesir telah memasukkan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris, dan sejak itu kontaknya dengan Hamas pun dihentikan karena dianggap Hamas sebagai bagian dari Ikhwanul Muslimin.

Jihad Islam tindak menduga bahwa kontaknya dengan Kairo akan membuat Hamas tersinggung. Pemimpin Jihad Islam di Lebanon Abu Imad al-Rifai, mengatakan pihaknya memahami kontak kelompoknya dengan Mesir telah mengecewakan Hamas, namun seharusnya hal itu tidak merusak hubungan kedua kelompok.

Dalam pemilu tahun 2005 yang dimenangkan Hamas, Jihad Islam sebenarnya turut berpartisipasi namun gagal meraih kekuasaan di satu wilayah pun di Gaza. Namun kini pengaruh Jihad Islam telah cukup untuk membuat Hamas khawatir akan tersingkir. Abu Hamza, seorang tokoh Jihad Islam mengklaim hal tersebut disebabkan Jihad Islam berhasil “menghindarkan diri dari konflik internal dan tidak pernah menumpahkan darah rakyat Palestina”.

Jihad Islam telah melancarkan 4 kali operasi militer besar terhadap Israel dan terus berusaha meningkatkan daya hancur dan jangkau rudal-rudalnya hingga berhasil memaksa penduduk Israel sembunyi berhari-hari di ruang bawah tanah, selama operasi militer terakhirnya.

Abu Hamza, seorang komandan sayap militer Jihad Islam, Brigade al Quds, mengungkapkan lebih jauh kepada Al Akhbar tentang “peperangan” yang terjadi antara Jihad Islam dengan Hamas. Ia menyebutkan adanya rebutan jalur “penyelundupan” di perbatasan Gaza-Sinai. Meski Mesir telah menghancurkan sejumlah besar terowongan, beberapa masih utuh dan Jihad Islam masih dapat mendapatkan suplainya. Namun, “Hamas membatasi kemampuan kami untuk mendapatkan suplai. Beberapa kali Hamas melarang senjata-senjata lewat kecuali mereka mendapatkan bagian yang sama, atau setidaknya mereka selalu ingin mengetahui senjata-senjata yang diselundupkan,” kata Hamza.

Antara tahun 2008 sampai 2012 Hamas tetap menjaga gencatan senjata dengan Israel meski Israel berulangkali melanggarnya. Israel juga terus menggelar operasi inteligen untuk membunuh orang-orang JIhad Islam. Sebaliknya JIhad Islam membalasnya dengan melancarkan 4 operasi militer terhadap Israel, tanpa dukungan Hamas.

Dalam perang Gaza tahun 2012, daya tembak dan daya hancur Brigade Al Quds tidak kalah hebat dengan yang dimiliki Hamas. Roket-roket kedua kelompok itu menghantam Tel Aviv untuk pertama kalinya, memaksa Isreal mengajukan gencatan senjata. Namun Hamas mengklaim pihaknya mengungguli Hamas dalam hal “pengambilan keputusan” dan “eksekusi serangan”.

Dalam parade militer yang digelar Hamas dan diikuti Jihad Islam di Gaza beberapa waktu lalu, Jihad Islam menunjukkan senjata-senjata barunya seperti rudal anti-pesawat dan senapan penembak jitu jarak jauh. Namun Jihad Islam menarik diri dari parade setelah para pejuang Hamas mengibar-ngibarkan bendera Rabia al-Adawiya yang terkait dengan kelompok Ikhwanul Muslimin Mesir.(ca/al-akhbar.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL