Foto: Kompas

Foto: Kompas

Jakarta, LiputanIslam.com — Lama tidak terdengar kelanjutan kasusnya, Penyidik Polda Metro Jaya diberitakan akan menghentikan kasus Sitok Srengenge. Seperti diketahui, Sitok dilaporkan atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan terhadap seorang mahasiswi Universitas Indonesia, RW. Atas tindakan asusila yang dilakukan, RW pun hamil.

“Kami akan SP-3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) karena harus ada kepastian hukum,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Heru Pranoto di Jakarta, Senin, 8 September 2014, seperti dilansir Kompas.

Guna menerbitkan SP-3, Heru menuturkan, penyidik kepolisian akan melakukan gelar perkara dengan menghadirkan kejaksaan, pengacara pelapor, dan terlapor.

Heru mengatakan, penyidik kesulitan dalam mencari alat bukti atas tuduhan korban RW terhadap Sitok. Hubungan intim yang dilakukan Sitok dengan RW terjadi berkali-kali sehingga tuduhan perkaranya lemah.

“Mengapa korban melaporkan setelah hamil dan kejadian pemerkosaannya bisa berulang kali,” ujar Heru, seraya menambahkan tuduhan RW terhadap Sitok tidak memenuhi unsur pidana.

Proses penyelidikan terhadap Sitok hampir berlangsung setahun, tetapi polisi belum juga meningkatkan status terlapor sebagai tersangka. RW, didampingi pengacara Iwan Pangka, melaporkan Sitok ke Polda Metro Jaya pada 29 November 2013. Berdasarkan laporan polisi Nomor: LP/4245/XI/2013/PMJ/Ditreskrimum, korban melaporkan Sitok dengan jeratan Pasal 355 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Rencana SP3 kasus Sitok ini menjadi topik hangat di jejaring sosial. Namun bukan hanya Sitok yang dikritik, melainkan juga para aktivis feminis yang selama ini lantang bersuara membela perempuan.

“Penyair kondang itu memperkosa perempuan yang seumuran dengan anaknya. Dia tidak dipenjara. Malah dengar-dengar kasusnya di-SP3. Teman-teman di lingkaran sang penyair banyak juga yang perempuan, dan mereka sudah sejak lama termasyhur di jagat raya sebagai kaum feminis garis keras. Tapi ya terhadap kasus pemerkosaan itu, mbak-mbak penggemar selendang dan anting panjang itu tampaknya memilih golput. Dari sini kita bisa mengambil satu pemahaman baru: sebuah ideologi itu mirip profesi. Ia bisa juga dikerjakan secara part time,” tulis Iqbal Aji Daryono, seorang Facebooker yang kesal lantaran para aktivis perempuan pun bungkam atas musibah yang menimpa RW. (ph)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL