winda dalam gerobak

Winda dalam gerobak (foto: publicapos.com)

Bandar Lampung, LiputanIslam.com–Windasari adalah seorang tunawisma yang sehari-harinya tinggal di gerobak bersama suami dan anaknya. Mereka berkeliling mencari barang rongsokan sebagai sumber nafkah. Ketika kaki Winda luka akibat ditabrak motor, diabetes yang dideritanya memperparah kondisinya. Dia sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek Lampung, namun akhirnya terpaksa pergi karena pihak rumah sakit mengusirnya.

Sagimin (35), suami Windasari, mengaku keluarganya memang tidak memiliki KTP karena tidak memiliki tempat tinggal. Selama ini, dia beserta istri dan anaknya hanya tinggal di gerobak yang kerap keliling, untuk mencari rongsokan.

“Pihak rumah sakit menawarkan saya untuk mendapat perawatan gratis namun harus menggunakan KTP, saya tidak punya itu dan akhirnya istri saya disuruh pulang saja,” kata Sagimin, seperti dikutip Kompas (5/1/2015).

Sebelumnya, Winda sempat dirawat di RS itu selama lima hari. Dia menderita luka dan bengkak pada kedua kakinya yang dipicu penyakit diabetes yang diidapnya. Selama dalam perawatan di RSUD pasien ini mengaku ditelantarkan, bahkan diusir oleh perawat yang bertugas. “Saya dimarah-marahi, katanya disuruh pulang saja,” kata dia.

Selain tak mendapat perawatan laiknya pasien, Winda juga mengaku kehausan dan kelaparan. “Saya tidak diberi makan dan minum. Kalaupun diberi, itu makanan yang sudah kemarin-kemarin,” keluh dia lagi.

Sampai akhirnya pada Minggu sore (4/1/2015), Winda terpaksa pulang meski kondisinya kesehatannya masih belum pulih. Luka pada kakinya meski sudah dibaluri bedak dan ditambal dengan kapas serta tisu, tetap saja mengeluarkan bau busuk dan bahkan belatung.

Dalam kondisi itu, dia tetap diangkut dengan gerobak dan tetap berada di sana sampai akhirnya ada seorang relawan mengantarkannya dirawat kembali ke rumah sakit lainnya.

Direktur RSUD Lampung Heri Djoko Subandriyo membantah telah menelantarkan pasien tunawisma. Menurut dia, saat dipulangkan pasien Winda sudah lebih baik kondisinya. “Dia dirawat di sini sudah tiga kali pertama disebabkan kecelakaan sekitar Mei 2013 lalu, kemudian pada Agustus 2014 dirawat lagi karena diare dan kemarin pada 28 Desember 2014 karena diabetes,” kata dia, seperti dikutip Kompas.

Lebih lanjut, dia mengatakan, dokter yang merawatnya menyatakan kesehatan pasien sudah lebih baik hanya perlu dilakukan rawat jalan saja. “Semua pasien yang dirawat di sini mendapat perlakuan yang sama, soal statusnya sebagai tunawisma, kami sudah mendapatkan persetujuan dari Dinas Sosial sejak pertama kali dia dirawat,” kilah dia.

Tanggapan Pemerintah Provinsi

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menilai kecil persoalan pengusiran pasien miskin bernama Winda Sari (25) dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM). Instansi itu menganggap hal tersebut bukan sesuatu masalah yang besar.

“Hanya persoalan seperti itu kan bisa dikomunikasikan ke asisten atau instansi terkait lainnya. Saya (sekretaris provinsi), gubernur, dan wakil gubernur banyak urusan besar yang harus diurusi. Saya bukan tidak mau mengomentari. Hanya saja, banyak hal lain yang harus saya urus,” kata Sekretaris Provinsi Lampung Arinal Djunaidi, seperti dikutip duajurai.com (5/1/2015).

Sebaliknya, Arinal justru menyarankan pihak yang dihubungi ihwal pengusiran pasien itu adalah RSUDAM. Padahal, rumah sakit pemerintah itu sudah menggelar konferensi pers mengenai pengusiran Winda. “Kalau ada hal yang tidak sesuai dengan faktanya dan persoalannya tidak terselesaikan baru lapor ke kami,” ujar dia.

Berbeda dengan Pemprov Lampung, Kementerian Kesehatan justru akan menginvestigasi dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Lampung terkait pengusiran pasien pemulung. Hal ini disampaikan langsung oleh Murti Utami, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan. “Langkah awal, koordinasi. Supaya kami dapat informasi yang komprehensif soal ini,” kata Murti kepada duajurai.com melalui sambungan telepon, Senin. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*