Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Rais Aam Pengurus Besar Nahdaltul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar menjelaskan dua makna mudik. Dalam Bahasa Arab disebut adhaa dan adha’a (satu berakhiran dengan huruf hamzah, yang satu lagi dengan ‘ain). Walaupun hampir sama, namun dua kata itu memiliki makna yang berbeda.

“Kepada Mukminin-mukminat, Muslimin-Muslimat, Nahdliyin dan Nahdliyat, shaimin-shaimat, saya ucapakan selamat mudik, semoga selamat sampai tujuan,” ucap Kiai Miftah mengawali perkataan saat berada di Kantor PBNU, Jakarta, pada Kamis (30/5).

Jika huruf terakhirnya menggunakan ‘ain, yakni adha’a berarti menyia-nyiakan. Mudik kategori ini adalah melakukan perbuatan yang sia-sia di perjalanan atau saat tiba di kampung halaman. “Karena kerja di Jakarta lama, kemudian mudik, hartanya dihabiskan di kampung dengan cara foya-foya, bersenang-senang, unjuk atau pamer kekayaan dan ingin dipuji orang lain,” katanya.

Baca: Selama Mudik, Faskes BPJS Bisa Diakses Dimana Saja

Sementara adhaa yang kedua, yang berakhir huruf hamzah, berarti menerangi. Dengan demikian, pemudik kategori ini dari perantauannya, ia membawa kebaikan untuk kampung halamannya, menularkan cahaya bagi saudara, tetangga-tetangganya, sahabat-sahabatnya dengan ilmu atau keahlian atau peluang yang didapat dan dikuasainya.

“Kalaupun ia memiliki harta, digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan atau disumbangkan kepada pembangunan sarana ibadah, pendidikan dan fasilitas umum yang bermanfaat,” ungkap Kiai Miftah. (aw/NU).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*