Gaza, LiputanIslam.com—Beberapa waktu yang lalu, warga Palestina mengadakan demo Hari Bumi untuk menuntut hak kembali ke tanah sendiri. Rezim Israel pun mengirim 100 penembak untuk melawan demonstran tak bersenjata di Gaza. Setidaknya 17 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 1.400 orang terluka.

Peristiwa genosida ini ternyata tidak menjadi subyek kecaman oleh AS dan banyak negara-negara Barat, atau bahkan tidak diberitakan sama sekali.

Melihat angka korban tewas di dalam peristiwa ini yang telah menyeleweng hukum internasional, hal ini bahkan tidak masuk berita New York Times, salah satu media terbesar di AS.

Seorang analis asal Chile, Whitney Webb, menulis dalam artikel di Mintpressnews (3/4/18) bahwa bungkamnya Amerika atas peristiwa seperti ini memang sudah biasa terjadi, berkat “hubungan istimewa” antara AS  dan Israel.

Pada awal tahun ini, demonstrasi terkait masalah ekonomi di Iran memenuhi pemberitaan media Barat, meski aksi ini relatif kecil dan hanya terjadi dalam seminggu. Seketika, media Barat meminta agar para demonstran didanai dan dipersenjatai.  Pada akhirnya, Deplu AS  menghabiskan lebih dari $1 juta untuk para demonstran dan mendorong pergantian rezim di Iran.

Di Libya pada tahun 2011, Muammar Gaddafi dituduh menindas warga negara sendiri. Pemerintah Gaddafi kemudian didemo oleh orang-orang bersenjata, yang ternyata terbukti bahwa mereka dipersenjatai oleh negara-negara asing yang menginginkan pergantian rezim di Libya. AS, Inggris, dan Prancis pun mendorong resolusi PBB untuk “melindungi warga sipil”  Libya, yang kemudian berakhir dengan militer NATO mengebom negara itu.

Tuduhan yang sama juga terjadi di Suriah. Presiden Bashar al-Assad dituduh membunuh warga sendiri. Di media-media Barat, muncul kalimat “Assad Harus Pergi”. Hal ini berakhir dengan negara-negara Teluk dan Israel mendanai  para “pemberontak” untuk menjatuhkan Assad.

Namun, ketika Israel terbukti membunuh warga sipil Palestina, tidak ada upaya dari Barat untuk menjatuhkan rezim ini. Tidak ada upaya “mempersenjatai” demonstran Palestina, tidak ada “intervensi kemanusiaan”, “pergantian rezim” Israel, atau “Netanyahu Harus Pergi”.

Alih-alih, resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengkritik genosida di Gaza ditolak oleh AS.  AS masih terus menyuplai militer Israel sebanyak $10 juta setiap hari.

Menurut Webb, hipokritas menyolok ini sudah tidak mengejutkan lagi. Perhatian “kemanusiaan” dari AS dan sekutu-sekutunya seringkali keluar untuk ambisi pergantian rezim, bukan bagi warga sipil.

Terdapat banyak demonstrasi berdarah di seluruh dunia, namun media Barat menganggap peristiwa seperti itu layak diberitakan hanya jika itu bisa dieksploitasi untuk tujuan-tujuan geopolitik AS.

Webb menulis, AS dan Barat akan terus bungkam atas tragedi-tragedi masa depan di Gaza. Segala bentuk blokade Israel yang membuat Gaza menjadi penjara terbuka, penghancuran infrastruktur, penindasan pria, wanita, dan anak-anak Gaza tidaklah layak mendapat “intervensi kemanusiaan” dari Barat. (ra/mintpress)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL