OLYMPUS DIGITAL CAMERAHongkong, LiputanIslam.com –– Ketakutan dikabarkan telah melanda para pekerja seks komersial di Hongkong setelah terjadinya pembunuhan terhadap 2 WNI Sumarti Ningsih and Seneng Mujiahsih oleh bankir Inggris minggu lalu.

Bahkan di malam minggu, bar-bar di “kawasan lampu merah” Wanchai tampak sepi. Demikian New Straits Times melaporkan, Rabu (5/11).

Jenasah Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiahsih ditemukan di apartemen bankir asal Inggris Rurik Jutting, Sabtu (1/11) malam. Mereka menjadi korban pembunuhan brutal Jutting. Mereka berdua diduga kuat sebagai pekerja seks komersial.

Pembunuhan sadis itu menyadarkan warga Hongkong, bahwa di salah satu kota paling aman di Asia seperti Hongkong, sebuah pembunuhan sadis bisa terjadi dan menimpa siapa pun, terlebih para pekerja seks komersial.

“Polisi datang dan menunjukkan gambar kedua wanita itu untuk mengetahui apakah kami mengenalnya. Tidak ada yang kenal, namun kami ketakutan dengan apa yang terjadi pada keduanya,” kata seorang PSK dari Filipina bernama Maria, yang bekerja di kawasan Wanchai untuk membiayai anak yang masih kecil dan orang tuanya yang sakit-sakitan di Filipina.

Maria mendapatkan uangnya di “girlie bar“, dimana ia dan teman-temannya sesama pekerja, mendapatkan komisi dari minuman yang dihabiskan tamu yang harganya sudah dinaikkan, atau ketika tamu memintanya melakukan tarian seksi dengan diawasi bos wanita tua yang dikenal sebagai “mama-sans”.

Para pekerja wanita itu biasanya bekerja untuk sebuah bar yang dimiliki dan dikelola oleh seorang warga, menandatangani kontrak kerja selama 6 bulan, dan tinggal di rumah kontrakan tidak jauh dari tempat kerjanya.

Pelacuran terorganisir atau mengelola rumah bordil merupakan tindakan ilegal di Hongkong. Namun individu-individu yang menjual jasa sek (PSK) tidak dilarang. Jika seorang pekerja wanita mendapatkan teman kencan, ia cukup membayar “denda” kepada bosnya dan meninggalkan tempat kerjanya. Saat itulah wanita itu tidak mendapatkan perlindungan dan rawan menjadi korban kejahatan.

Namun, meski ketakutan, wanita seperti Maria tetap tidak akan meninggalkan pekerjaannya karena tidak ada pilihan lain.

“Saya tidak boleh takut. Saya harus bekerja. Saya harus mengumpulkan uang untuk keluarga saya,” kata Maria kepada AFP.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL