jk-disumpahJakarta, LiputanIslam.com — Kesaksian mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) kasus Bank Century, Kamis (8/5), semakin menyudutkan pihak-pihak yang selama ini dianggap bertanggungjawab dalam proses bailout yang menelan Rp 6,7 triliun itu.

Jusuf Kalla hadir sebagai saksi dalam persidangan untuk terdakwa Budi Mulya dalam kasus Century di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Tidak ada hal yang baru dalam keterangan JK dengan keterangan sebelumnya, baik di Pansus Angket Century maupun penjelasan di hadapan publik.

Beberapa poin yang sebenarnya pernah disampaikan di hadapan Panitia Angket Century seperti JK mengaku dirinya tidak mendapat laporan dari Menkeu Sri Mulyani terkait pengucuran dana Penyertaan Modal Sementara (PMS).

“Tidak dilapori sebelum diambil tindakan,” kata JK dalam kesaksiannya tersebut.

Ia mengaku pada 13 November 2008 hanya mendapat laporan tentang Bank Century yang kalah kliring. Padahal kata JK, kalah kliring merupakan hal yang biasa dan tidak perlu mendapat jaminan penuh penggantian.

“Saya katakan itu biasa. Saya tegaskan tidak boleh ada full guarantee, maka tidak boleh bailout,” tambah JK.

JK mengaku baru diberi informasi tentang bailout Bank Century empat hari atau tanggal 25 November 2008 setelah pengucuran dana talangan sebesar Rp2,7 triliun. Ia menuturkan, Gubernur BI dan Menkeu melaporkan tentang pemilik bank yang mengambil dana bank.

“Saya katakan ini perampokan,” tegas JK.

Dalam kesempatan tersebut ia juga membantah bila dirinya mendapat kiriman SMS dari Sri Mulyani terkait pelaporan bailout Century. Ini membantah keterangan Sri Mulyani sebelumnya yang mengaku mengirimkan SMS kepada JK.

Anggota Tim Pengawas Century DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan bahwa kesaksian JK di Pengadilan Tipikor lebih mengungkap pengakuan bersalah Menkeu/Ketua KSSK Sri Mulyani (SMI) dan Gubernur BI Boediono.

“Keduanya tak bisa lagi mengendalikan ekses penyelamatan Century karena langsung membengkak dari Rp632 miliar yang disetujui menjadi Rp2,7 triliun dalam waktu dua hari,” kata Bambang.

Selain itu, kesaksian JK juga mengungkap inkonsistensi Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) dan Bank Indonesia (BI) tentang alasan utama mem-bailout Century. Menurut Bambang, pengakuan Boediono tentang bailout dilakukan karena Robert Tantular mengambil uang dari Century.

“Tetapi, pada kesempatan lain, Boediono dan SMI mengemukakan ancaman krisis ekonomi sebagai alasan utama mem-bailout Century. Di sinilah terlihat inkonsistensi Boediono dan Sri Mulyani,” papar Bambang.(ca/inilah.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL