Plakat bertuliskan “Macron, Keluar!” yang dipasang demonstran rompi kuning

Paris, LiputanIslam.com–Aksi unjuk rasa gerakan ‘rompi kuning’ pada hari ini (8/12) berakhir dengan kerusuhan dan bentrokan dengan polisi anti huru-hara di jantung kota Paris, Prancis.

Sejumlah ahli menilai, kerusuhan ini bisa jadi disebabkan oleh arogansi Presiden Emmanuel Macron terhadap para demonstran.

Teriakan ‘Macron harus mundur!’ telah menjadi tuntutan umum di kalangan demonstran berompi kuning yang menentang reformasi pro-bisnis Presiden Macron. Namun, orang yang diprotes ini tidak muncul sama sekali di depan publik, selain hanya menyampaikan kecaman terhadap aksi protes.

Menurut ketua Majelis Nasional Prancis, Richard Ferrand, sang presiden tidak akan berbicara sampai Senin depan, agar menghindari situasi yang lebih parah.

Di saat Macron menghindari sorotan publik, PM Prancis Edouard Philippe-lah yang dikirim untuk mengisi kekosongan ini. Sang PM muncul dan mengumumkan penurunan pajak pemerintah sesuai tuntutan gerakan rompi kuning.

Seorang analis dan wartawan Belgia, Luc Rivet, mengatakan kepada RT bahwa mungkin sebaiknya Macron tetap diam karena dia memiliki citra yang arogan dan tidak dekat dengan rakyat.

“Jika dia harus berbicara seperti yang ia lakukan selama ini: jauh, arogan, menolak untuk mengalah dan memahami, … maka dia memang harus diam,” catat Rivet.

Sang jurnalis berpendapat bahwa Macron merupakan presiden yang “secara praktik tidak pernah berhubungan dengan masyarakat nyata”. Ia bukan hanya lambat dalam menanggapi aksi protes rompi kuning, tetapi juga menyikapinya dengan salah.

“Baru dalam demo minggu kedua ia merasakan bahaya, lalu kita bisa melihat dengan sikap arogansinya, ia malah merespon [tuntutan demonstran] dengan memberi penjelasan panjang lebar tentang mengapa pajak bahan bakar diperlukan untuk lingkungan,” paparnya Rivet. (ra/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*