kendaraan militer asTallinn, LiputanIslam.com — Kendaraan-kendaraan lapis baja AS berparade di dekat perbatasan Rusia di kota Narva, Estonia, Selasa (24/2). Demikian kantor berita Rusia Today melaporkan, Rabu (25/2).

Estonia adalah negara bekas Uni Sovyet yang telah bergabung dengan NATO dan dalam beberapa tahun terakhir sangat kritis terhadap Rusia yang dituduh melakukan kebijakan yang agresif terhadap Estonia dan negara-negara Baltik lain.

Parade militer hari Selasa adalah peringatan Hari Kemerdekaan Estonia, dikomandani oleh Jendral Riho Terras dan diinspeksi oleh Presiden Toomas Hendrik Ilves.

Lebih dari 140 unit persenjataan militer NATO terlibat dalam parade tersebut, termasuk 4 kendaraan lapis baja pengangkut pasukan (APC) M1126 Stryker dengan bendara AS di atasnya. Selain itu Belanda menyertakan 4 unit kendaraan militer Stridsfordon 90 buatan Swedia.

Estonia sendiri menyertakan sejumlah howitzer, senjata-senjata anti-tank dan anti-pesawat, kendaraan lapis baja dan lain-lain. Lebih dari 1.400 tentara berbaris mengiringi senjata-senjata itu.

Russia Today menyebut parade tersebut sebagai ‘pamer kekuatan’ Estonia terhadap Rusia. Bersama sekutu-sekutu NATO nya, Estonia menuduh Rusia terlibat langsung dalam konflik di Ukraina.

“Narva adalah bagian dari wilayah NATO, tidak kurang dari New York atau Istanbul, dan NATO akan mempertahankan setiap jengkal wilayahnya,” kata PM  Taavi Rõivas dalam pidato yang disampaikan di ibukota, Tallinn.

Secara historis Narva merupakan tempat yang menjadi medan persaingan antara Rusia Swedia selama berabad-abad. Kota ini berpindah penguasa berulangkali dan pada tahun 1704 menjadi wilayah Rusia. Pada saat terjadi revolusi Bolshevik tahun 1917 kota ini menjadi kota penting yang berperan dalam revolusi yang menumbangkan Kekaisaran Rusia. Menjadi bagian dari Republik Estonia sebelum Perang Dunia II, diduduki Jerman selama perang, dan berakhir sebagai bagian Uni Sovyet setelah perang. Paska runtuhnya Uni Sovyet tahun 1991, Estonia pun menjadi negara berdaulat penuh dengan Narva di dalamnya.

Narva memiliki sejumlah besar penduduk yang berbahasa Rusia dan menjadi pusat gerakan pro-otonomi. Hal ini dipandang sebagai peluang bagi Rusia untuk melakukan campur tangannya melalui kota ini.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL