London, LiputanIslam.com– Pernikahan Pengeran Harry dan Meghan Markle pada kemarin (19/5/18) telah menjadi pembicaraan di mana-mana, dan mengalahkan pembicaraan tentang genosida di Gaza atau upaya sabotase AS bagi pembicaraan damai Korea Utara.

Pemberitaan tentang pernikahan akbar ini diambil dari berbagai sisi—dari  kuenya sampai tentang ketidakhadiran ayah Markle dalam acara ini. Namun sayangnya, sedikit sekali  diskusi tentang biaya pernikahan yang sangat tinggi, yang diambil dari pajak masyarakat Inggris.

Keluarga kerajaan menolak mempublikasikan data resmi tentang biaya pernikahan. Namun menurut perkiraan yang beredar di mana-mana, angkanya mencapai £32 juta (~600 milyar rupiah). Uang para pembayar pajak diperkirakan dipakai untuk satu sektor dari pernikahan yang berbiaya paling mahal, yaitu keamanan. Sektor lain akan dibayar oleh keluarga kerajaan sendiri.

Namun, melihat fakta bahwa Keluarga Kerajaan menerima dana tahunan dari Kementerian Keuangan Inggris– tahun ini di angka £82 million (1,5 triliun rupiah) – itu berarti uang pajak rakyat Inggris dipakai juga secara tidak langsung untuk sektor-sektor lain dalam acara ini.

Gamoritas pernikahan ini melahap seluruh perhatian dari media, sehingga realitas lain di baliknya terabaikan. Tak banyak yang menyadari bahwa saat ini lebih dari 1/5 populasi warga Inggris hidup dalam kemiskinan. Jumlah keluarga yang tinggal di perumahan sementara juga meningkat, yaitu sebanyak 79.000 keluarga, dibandingkan dengan 48.010 pada delapan tahun lalu.

Statistik pemerintah yang lain menunjukkan peningkatan kemiskinan anak-anak, dengan angka 100.000 lebih banyak setiap tahun. Saat ini, lebih dari 30% anak-anak Inggris hidup di bawah garis kemiskinan. Situasi anak-anak ini lebih suram di beberapa daerah tertentu. Guru-guru melaporkan bahwa anak-anak dengan “kulit abu-abu, gigi rusak, rambut kotor mengisi kantong mereka” dengan makanan yang diberikan oleh sekolah.

Banyak pihak menyalahkan buruknya situasi di Inggris kepada pemerintah Tory, yang dipimpin oleh PM Theresa May. Pemerintah ini telah lama memangkas anggaran sektor-sektor publik untuk mengatasi defisit keuangan. Langkah tersebut dianggap menyebabkan peningkatan kemiskinan di Negeri Ratu Elizabeth itu.

Dengan meningkatnya kesenjangan sosial di Inggris—negara dengan tingkat kesenjangan paling tinggi ke-6 di dunia—sebuah pernikahan kerajaan berbiaya £32 juta merupakan tamparan di wajah bagi warga Inggris yang standar hidupnya semakin menurun karena penghematan yang dilakukan pemerintah. (ra/mintpress)

*tulisan ini diterjemahkan bebas dari artikel “A Royal Wedding for a Nation Sinking Ever-Deeper into Inequality” oleh Whitney Webb.

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*