Sumber: alinea.id

Depok, LiputanIslam.com— Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan neraca perdagangan pada April 2019. Dalam laporan tersebut tercatat defisit neraca perdagangan pada April 2019 mencatatkan defisit hingga 2,5 miliar dolar AS.

Berdasarkan data Refinitif, defisit pada April 2019 merupakan yang terparah sepanjang sejarah Indonesia. Sebelumnya, defisit terparah terjadi pada 2013 dengan jumlah defisit sebesar 2,3 miliar dolar AS.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih, defisit neraca perdagangan pada April 2019 dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia yang sedang melemah.

Baca: Jokowi Sebut Defisit Neraca Perdagangan Persoalan Besar

“Banyak faktor, ekonomi dunia juga sedang melemah. Memang berpengaruh kepada kita. Kita juga sudah berusaha,” ujarnya, Depok, Senin (20/5).

Dia menilai, Indonesia masih memiliki potensi ekspor karena punya beragam produk yang bisa. Akan tetapi, hal tersebut masih belum sebanding dengan daya saing produk lokal yang dinilai masih rendah.

“Ada beberapa produk manufaktur yang kita masih kalah,” katanya.

Dia menyampaikan, pemerintah akan terus menggenjot sektor manufaktur yang memiliki nilai tambah.

“Sektor manufaktur tetap lebih utama dikembangkan karena potensi nilai tambahnya,” ucapnya. (sh/republika/cnbcindonesia)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*