keluarga mh370Beijing, LiputanIslam.com — Nyaris dua bulan menginap di hotel di Beijing, China, bersama dengan keluarga penumpang pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 lainnya, Yan Jiacheng akhirnya kembali ke rumah membawa pertanyaan besar tentang nasib keluarga mereka yang menjadi korban hilangnya MH370. Namun Yan yang putranya ada di dalam pesawat tersebut, tetap berpegang harapan bahwa putranya kembali dengan selamat.

“Saya tidak ingin pergi, tentu saja, tapi saya tidak memiliki pilihan,” ucap Yan kepada AFP, Sabtu (3/5), ketika kerabatnya mengantarnya pulang ke rumah yang berjarak 800 kilometer dari Beijing.

Sama seperti Yan, puluhan keluarga korban penumpang lainnya juga harus meninggalkan hotel Lido setelah pihak MAS menyatakan tidak akan lagi menyediakan akomodasi bagi keluarga. Namun berbeda dengan yang lain, Yan yang bertutur kata lembut ini tidak emosional dan cenderung pendiam saat pertemuan keluarga dengan otoritas Malaysia dan MAS digelar di hotel Lido, selama beberapa bulan terakhir ini.

Ketika pertemuan digelar, pria berusia 60 tahun ini hanya duduk di bagian belakang, sambil meneguk segelas air yang disediakan pihak maskapai. Dia hanya mengangkat kepalanya ketika keluarga penumpang lain mulai meluapkan emosi dan berteriak di dalam ballroom hotel. Terkadang dia menyendiri di luar, duduk di area parkir mobil sambil merokok. Sedangkan keluarga penumpang lainnya sibuk berteriak dan menangis.

Pada hari-hari awal ketika MH370 dinyatakan hilang, terlihat jelas tanda-tanda kelelahan pada wajah Yan. Ada kantong mata di bawah matanya dan rambutnya berantakan. Namun kini, Yan secara fisik tampak lebih kuat, namun di dalam dia tetap rapuh. Yan mengaku, dia tidak merasakan hal yang lain selain putus asa.

Putra bungsu Yan yang bernama Yan Ling (30) merupakan salah satu dari 153 penumpang MH370 asal China. Yan terakhir kali bertemu dengan putranya pada Tahun Baru Imlek, akhir Januari lalu. Yan menggambarkan putranya sebagai anak yang introvert, namun dengan nada ceria dia menyebutnya sebagai pekerja yang baik dan insinyur yang hebat.

Putra Yan bekerja pada sebuah perusahaan peralatan medis di distrik Haidian, Beijing. Dia pergi ke Malaysia untuk mengikuti pelatihan kerja singkat dengan seorang rekan kerjanya. Keluarga Yan sangat dekat. Di Beijing, dia ditemani putra sulungnya, sedangkan sang istri yang memiliki masalah kesehatan tetap tinggal di Yancheng.

Kini, saatnya Yan kembali ke kehidupannya dan menghadapi kenyataan. “Para penumpang mungkin telah meninggal. Saya pikir demikian, tapi saya tidak berani memberi tahu keluarga saya,” ucapnya.

Dengan suara menahan tangis, Yan mengaku tetap berharap bahwa putranya bisa kembali ke rumahnya dengan sehat suatu hari nanti. “Itu akan sangat hebat. Saya akan sangat senang. Saya harap hari itu akan datang, dan saya akan tetap memegang harapan itu,” tandas Yan.(ca/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL