Washington, LiputanIslam.com—Presiden AS Donald Trump tengah mencoba memuaskan keinginan rezim dan lobby Israel dengan menarik negaranya dari perjanjian nuklir Iran. Demikian analisis dari profesor asal Amerika, James Petras.

Profesor Petras, yang mengajar di jurusan sosiologi Universitas Binghamton, New York, dan Universitas Saint Mary, Halifax, Nova Scotia, Kanada, memaparkan penjelasannya itu dalam wawancara kepada Press TV pada Selasa kemarin.

Tak lama setelah wawancara itu, Trump mengumumkan keputusannya untuk keluar dari perjanjian nuklir bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang mencabut sanksi kepada Tehran dan ditukar dengan pembatasan program nuklir.

“Kebanyakan orang memperkirakan bahwa … Trump akan merusak perjanjian dan keluar,” kata Petras, meski menurutnya ada kemungkinan ia akan menerima perjanjian itu dengan syarat Iran meninggalkan Yaman, Suriah, Hezbollah, dan mitra pertahanan lainnya.

“Dan saya pikir Trump akan menggunakan kemungkinan ini sebagai titik tawar untuk memastikan dukungan dari Eropa,”

“Tetapi, konsensus di sini adalah bahwa Trump sedang mencoba memuaskan Israel dan lobby Israel di AS, [dan itu adalah dengan cara] merusak perjanjian,” nilainya.

Menurut Pertras, ada beberapa penasehat Trump yang berpendapat bahwa merusak perjanjian dengan Iran akan menimbulkan prasangka tentang negosiasi AS dengan Korea Utara.

“Korea Utara bisa jadi akan memberi kepercayaan yang sedikit kepada perjanjian dengan Trump melihat fakta bahwa sebuah perjanjian dapat dirusak dalam satu tahun,” paparnya.

“Sangat diragukan bahwa siapapun akan mempercayai Trump dalam menandatangani perjanjian apapun…,” imbuhnya. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*