syrian-kurdish-activists-cut-ribbonMoskow, LiputanIslam.com — Kelompok separatis Kurdi Suriah, hari Rabu (102), membuka kantor perwakilan di Moskow di tengah desakan Rusia agar kelompok separatis itu disertakan dalam perundingan perdamaian kendati ditolak Turki. Hal ini sekaligus menujukkan bahwa kelompok Kurdi Suriah lebih mempercayai Rusia dibandingkan AS dalam perjuangan mereka melawan kelompok-kelompok teroris.

“Ini adalah momen bersejarah bagi rakyat Kurdi,” kata Merab Shamoyev, Ketua Persatuan Internasional Asosiasi Publik Kurdi, saat upacara yang berlangsung di kawasan industri di Moskow tenggara itu, seperti dilaporkan AFP dan dilansir Antara.

“Rusia punya kekuatan lebih besar dan merupakan pemain penting di Timur Tengah. Sebenarnya bukan hanya sebagai pemain, tapi juga penulis naskah,” tambahnya.

Pembukaan kantor perwakilan, yang dikatakan Shamoyev sebagai langkah politik penting bagi Kurdi Suriah, dilakukan pada saat kekuatan-kekuatan global melakukan pertemuan di Munich pada Kamis. Pertemuan Munich itu diselenggarakan dalam upaya untuk menghidupkan kembali perundingan perdamaian Suriah.

Pembukaan kantor di Moskow itu juga akan memicu ketegangan pada hubungan Rusia dengan Turki. Hubungan kedua negara terpecah November tahun lalu setelah Ankara menembak jatuh sebuah pesawat tempur Rusia di perbatasan Suriah.

Mereka yang hadir pada acara peresmian memiliki ikatan dengan Partai Serikat Demokratik Kurdi (PYD), kata Shamoyev. PYD menjadi pemimpin peperangan melawan kelompok ISIS di Suriah utara. Namun, Turki menganggap partai itu sebagai cabang musuh utamanya, Partai Buruh Kurdistan (PKK).

PYD juga tidak diundang dalam perundingan perdamaian Suriah. Perundingan yang dilaksanakan di Jenewa itu pekan lalu buyar di tengah tuduhan dari Barat dan oposisi Suriah bahwa serangan bom Rusia mengincar kalangan sipil.

Perundingan, yang ditujukan untuk mengakhiri perang selama hampir lima tahun, tersebut ditangguhkan hingga 25 Februari.

Perang Suriah telah menewaskan lebih dari 260.000 orang. Moskow, yang merupakan pendukung lama Presiden Suriah Bashar al-Assad, telah menyatakan bahwa perundingan apa pun tidak akan berhasil tanpa menyertakan pihak Kurdi. Namun, Ankara menganggap bahwa kehadiran Kurdi tidak dapat diterima karena kelompok itu menginginkan kemerdekaan.

Kementerian luar negeri Rusia tampaknya menjaga jarak dalam hal pembukaan kantor Kurdi Suriah. Kementerian mengatakan kantor tersebut akan diwakili oleh para diplomat dari Suriah dan Irak.

Shamoyev menyatakan harapan bahwa hak rakyat Kurdi untuk memiliki “kebudayaan, bahasa dan pemerintahan” sendiri akan dijamin oleh undang-undang dasar Suriah dan bahwa Rusia akan memberikan dukungan agar harapan itu dapat terwujud.

Dalam pertemuan di Wina pada November lalu, kekuatan-kekuatan dunia menyepakati peta jalan yang ambisius. Peta itu memperkirakan bahwa pembicaraan antar-pihak di Suriah akan berlangsung selama enam bulan dan pembicaraan akan mengarah pada terbentuknya undang-undang dasar baru serta pemilihan yang bebas dalam waktu 18 bulan. Namun, masalah yang menjadi perdebatan menyangkut kepemimpinan Assad tetap tidak terselesaikan dalam peta tersebut.

Pada akhir 2013, kelompok-kelompok Kurdi di bagian timur laut Suriah mengumumkan pembentukan pemerintahan otonomi peralihan setelah mereka mengambil kendali di wilayah-wilayah kunci dari para pejihad. Separatis Kurdi Suriah juga sudah mengumumkan bahwa pihaknya akan membuka kantor-kantor perwakilan di Washington, Paris, Berlin dan negara-negara Arab. Tahun lalu, mereka membuka kantor perwakilan pertamanya di wilayah otonomi Kurdi di Irak.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL