Warga Yaman dan tim penyelamat berkumpul di bangunan yang rusak akibat serangan udara koalisi Saudi di Sana’a. (Photo by AFP)

Canberra, LiputanIslam.com–Sejumlah organisasi HAM mendesak Australia untuk segera menghentikan penjualan senjata kepada Arab Saudi dan UAE, ketika kedua negara Arab ini masih melakukan agresi militer mematikan di Yaman.

Namun, tidak seperti banyak negara barat lainnya, Australia memutuskan untuk mengabaikan kemarahan internasional dan mempertahankan perjanjian persenjataannya dengan UEA dan Arab Saudi. Demikian laporan dari Guardian pada Kamis (1/8).

Pada pekan lalu, Australia tertangkap basah masih melakukan pengiriman senjata. Kegiatan pengiriman itu berhasil difoto saat masih berada di dalam bandara internasional Sydney.

Organisasi Mwatana for Human Rights yang menyelidiki pelanggaran HAM di Yaman, pun menuding Australia telah mendukung perang dan “berkontribusi pada krisis kemanusiaan terburuk di dunia.”

“Perilaku koalisi [Saudi] dalam melakukan pelanggaran dan kejahatan perang tidak akan berlanjut jika sekutu Arab Saudi dan UEA, termasuk [Australia], mengambil posisi tegas dan menangguhkan penjualan senjata,” kata jubir Mwatana, Osamah Al-Fakih, kepada Guardian Australia.

Beberapa negara, seperti Inggris, Denmark, Finlandia, Jerman, dan Belgia, telah menangguhkan ekspor senjata baik atas perintah pengadilan atau kesadaran setelah menerima bukti bahwa senjata-senjata itu memang digunakan terhadap warga sipil di Yaman.

Sementara itu, pemerintah Australia mengklaim telah melakukan pemeriksaan ekstensif untuk memastikan senjatanya tidak digunakan oleh militer Saudi dan Emirat untuk melanggar hukum kemanusiaan.

Salah satu perusahaan Australia yang mengekspor senjata, Electro Optic Systems, juga berupaya menjustifikasi penjualan ini. Mereka mengatakan, mereka hanya menjual senjata itu ke Kementerian Dalam Negeri Saudi yang beroperasi hanya di dalam perbatasan Saudi. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*