double set 29f

Tiket Double Set Lion Air

Jakarta, LiputanIslam.com — Seorang penumpang Lion Air, Murni Nyaristi, mengeluhkan sikap manajemen Lion Air dalam melayani penumpang. Ia  yang hendak melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta untuk berlebaran, menemui berbagai kendala, dan menurutnya, sikap Lion Air sangat tidak manusiawi dalam mencarikan solusi.

“Lion Air, sangat tidak manusiawi memperlakukan penumpang bahkan yang telah dirugikan,”tulisnya di dalam surat terbuka tersebut.

Selain harus menunggu dalam waktu yang lama, Murni menyesalkan manajemen Lion Air. Murni merasa, bahwa Lion Air sama sekali tidak merasa bersalah atas kejadian tersebut.

“Kata-kata maaf bahkan tidak terucap dari mulut Andi (manager on duty Lion Air) sejak pertama dia menemui saya,” keluhnya.

Berikut, isi suratnya yang telah beredar luas di jejaring sosial:

Surat terbuka untuk manajemen Lion Air (Pelayanan Konsumen Terburuk Pada Angkutan Lebaran)

Ditulis oleh : @murni nyaristi

Sabtu, 26 Juli 2014 menjadi hari penyesalan saya memilih maskapai penerbangan Lion Air untuk sarana angkutan lebaran. Saya adalah penumpang pesawat JT 550 yang dijadwalkan terbang dari Jakarta ke Jogjakarta pada Sabtu, 26 Juli 2014 pukul 15.50 WIB. Saya tiba di bandara untuk check in kira-kira pukul 13.00 dan mendapatkan seat bernomor 29F, melalui gate A9 terminal 1 Bandara Soekarno Hatta.

Pada pukul 14.10 saya masuk ke ruang tunggu gate A9 dan melihat papan layar schedule penerbangan JT550 ada di gate A6. Saya mendatangi petugas informasi dan mendapat jawaban bahwa yang tertulis pada boarding pass sudah betul, bahwa pesawat JT550 dijadwalkan boarding melalui pintu gate A9, papan layar schedule tidak menunjukkan data terbaru.

Selanjutnya, pada pukul 15.50 petugas Lion Air mengumumkan bahwa pesawat JT550 mengalami keterlambatan dan dijadwalkan terbang pada pukul 16.50. Pada pukul 16.40 petugas bandara mengumumkan agar seluruh penumpang pesawat JT550 naik ke pesawat melalui gate A6, tidak pada gate A9 seperti yang dikonformasi petugas informasi Lion Air sebelumnya.

Penumpang berlarian menuju gate A6 dan 15 menit kemudian, setelah petugas Lion Air 3 kali mengumumkan agar penumpang segera masuk pesawat melalui pintu A6, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat JT 550 tidak jadi diterbangkan pada pukul 16.50, namun kembali mengalami keterlambatan dan dijadwalkan terbang pada pukul 17.50. Ini menjadi kesalahan pertama Lion Air, sangat tidak informatif.

Pada pukul 17.30, kembali para penumpang diminta untuk naik ke pesawat melalui pintu A6. Singkat cerita, setelah naik ke pesawat, betapa terkejutnya saya ketika melihat tempat duduk saya 29F telah diduduki oleh penumpang lain. Ketika saya tanyakan ke penumpang tersebut, sungguh di luar dugaan ternyata kami memiliki boarding pass dengan nomor tempat duduk sama alias double seat. Sengaja saya memfoto boarding pass sebagai bukti double seat tersebut.

Saya mendatangi pramugari yang bertugas untuk menyelesaikan masalah dan pramugari tersebut meminta saya menunggu untuk dicarikan tempat duduk lain. Tak disangka oleh pramugari, tempat duduk di dalam pesawat tidak ada lagi yang kosong. Saya mulai curiga kalau Lion Air berani menjual tiket pesawat melebihi kapasitas tempat duduk penumpang, dengan harapan ada penumpang yang terlambat hingga masih ada tempat duduk kosong. Sebagai informasi, penumpang yang nomor tempat duduknya sama dengan saya adalah penumpang transit pesawat dari Batam.

Saya yang belum mendapat tempat duduk juga sementara pesawat akan take off, diajak salah seorang petugas bernegosiasi di depan pintu masuk pesawat, dengan berkali-kali sang petugas berkata “tidak enak kalau didengar penumpang lain”. Kemudian, saya diminta keluar pesawat oleh petugas yang check jumlah penumpang dengan janji akan diberi kompensasi. Saya bersikeras tidak mau keluar pesawat dan sempat bertanya kenapa bukan salah seorang pramugari saja yang turun untuk memberikan tempat duduknya pada saya. Sungguh diluar dugaaan, salah satu pramugari berani membentak balik saya dan berkata pesawat tidak akan bisa terbang tanpa dia. Luar biasa bagaimana petugas Lion Air menyelesaikan masalah yang datang dari kecerobohan mereka sendiri.

Salah satu penumpang pesawat akhirnya menghampiri saya, dan menawarkan tempat duduk anaknya untuk saya tempati, biarlah dia berkorban memangku anaknya agar pesawat segera terbang. Saya tidak mau, karena saya bukan orang yang suka mengambil hak orang lain sebagaimana lion air. Karena tidak tega melihat penumpang lain yang sudah mengalami delay penerbangan 2 jam dan karena salah satu petugas menjanjikan saya untuk dapat terbang pada pesawat berikutnya pukul 19.00 serta mengganti kompensasi, akhirnya saya turun dari pesawat.

Saya kemudian diantar ke business lounge Lion Air yang sudah tidak lagi menyediakan makan malam dan diminta menunggu manager on duty untuk kompensasi dan penggantian pesawat. Pada pukul 19.30, manager on duty bernama Andi Handoko datang dengan telah membawa tiket pengganti. Saya tanyakan mana kompensasi yang dijanjikan, sang manager terlihat mencibir saya dan bilang nanti saya ganti uang 100 ribu, sambil berkata “Mbak mau nggak naik pesawat lain ini, pesawatnya sudah mau berangkat”.

Saya menganggap sikap ini adalah pelecehan pada penumpang, Lion Air telah merugikan saya, dan begini cara mereka memperlakukan saya. Lion Air seakan sadar penumpang seperti saya tidak punya banyak pilihan dan pasti mau diberikan kompensasi macam apapun asal bisa pulang kampung.

Kemudian saya melihat tiket pengganti tertera pesawat JT568 dengan jadwal penerbangan pukul 19.00, padahal ketika itu sudah pukul 19.30. Andi menjawab, pesawat mengalami delay, sehingga saya tidak perlu khawatir. Karena takut ditipu oleh Lion Air lagi, saya akhirnya mau naik pesawat pengganti asal Andi mengantar saya hingga duduk dalam pesawat untuk memastikan pesawat belum berangkat dan tidak lagi ada lagi double seat. Andi, sang manager akhirnya bersedia mengantar saya, dan memberikan saya secarik kertas kuitansi agar dia dapat memberikan saya kompensasi 100 ribu. Saya tidak mau menerima uang tersebut, dan karena tidak tahan dengan perlakuan Lion Air, saya sobek kuitansi tersebut dan melemparkannya ke Andi. Andi marah dan berkata saya tidak sopan, lalu meninggalkan saya.

Saya tidak terlalu peduli lagi, karena bagi saya Lion Air jauh lebih tidak manusiawi memperlakukan penumpangnya. Kata-kata maaf bahkan tidak terucap dari mulut Andi sejak pertama dia menemui saya, sekedar makanan berbuka puasa tidak diberikan, dan sekarang mau mengganti kompensasi 100 ribu yang sangat tidak sesuai dengan kerugian yang ditimbulkan. Ini menjadi kesalahan kedua Lion Air, sangat tidak manusiawi memperlakukan penumpang bahkan yang telah dirugikan.

Pelayanan buruk Lion Air pada saya belum berhenti sampai disitu, pesawat JT568 yang dijadwalkan terbang pada pukul 19.00 ternyata mengalami keterlambatan hingga pukul 23.00. Penumpang pesawat JT568 berkali-kali komplain ke petugas informasi untuk mengetahui kepastian kedatangan pesawat, dan meminta kompensasi seperti peraturan UU yaitu makan malam dan uang pengganti, yang hingga jam 22.30 belum diberikan. Dalam waktu lebih dari tersebut, kompensasi makan malam yang diminta para penumpang JT568 baru datang pada pukul 22.30, lima menit sebelum penumpang diminta naik pesawat. Uang ganti kerugian seperti klausul PM No.77 tahun 2011 bahkan tidak diberikan, padahal penerbangan baru diberangkatkan lebih dari jam 11 malam.

Sungguh luar biasa bagaimana Lion Air memberikan pelayanan pada konsumennya. Mungkin slogan Lion Air “We make you fly” pantas diganti dengan “We make you cry”.

Saya berharap semoga kejadian Lion Air ini tidak terulang lag. Saya sendiri cukup bijaksana untuk tidak lagi menjadikan Lion Air sebagai pilihan penerbangan.

Tertanda,
Murni Nyaristi
murni_ny@yahoo.com

[ba]

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL