dalai-lama_5312New Delhi, LiputanIslam.com — Pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama mengatakan bahwa dirinya kemungkinan akan menjadi Dalai Lama yang terakhir dan mengecam AS yang dianggapnya terlalu lunak terhadap Cina dalam masalah aksi-aksi demonstrasi pro-demokrasi Hongkong.

Sebagaimana dilansir BBC News, Rabu (17/12), masalah keberlanjutan institusi “Dalai Lama”, atau pemimpin spiritual tertinggi di Tibet adalah bukan kewenangannya melainkan menjadi hak sepenuhnya rakyat Tibet untuk mempertahankannya atau tidak.

“Apakah institusi Dalai Lama harus berlanjut atau tidak, itu terserah pada rakyat Tibet,” kata Dalai Lama kepada BBC.

Dalai Lama yang hidup di pengasingan di India sejak tahun 1939, setelah tentara Cina menduduki Tibet, mengakui bahwa dirinya kemungkinan akan menjadi penyandang gelar Dalai Lama. Namun ia mengakui lebih suka jika tradisi pemberian gelar yang telah berlangsung berabad-abad itu berakhir pada saat gelar itu masih populer seperti saat ini.

Sementara itu dalam wawancara dengan BBC itu Dalai Lama juga mengecam AS yang dianggap terlalu lembek terhadap Cina dalam kasus aksi-aksi demonstrasi menuntut demokrasi yang berlangsung di Hongkong. Menurutnya hal itu karena AS tergantung kepada uang dari Cina.

“Kantong mereka (AS) tengah kosong, maka sangat penting bagi mereka untuk menjalin hubungan erat dengan Cina,” katanya.

Minggu lalu Dalai Lama ditolak saat mengajukan ijin untuk bertemu Paus Franciscus di Roma. Gereja Vatikan mengatakan situasinya tidak tepat bagi Paus untuk bertemu Dalai Lama, meski tetap menyatakan penghormatan Paus terhadapnya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL