chad moslemPasca pengunduran diri Presiden Afrika Tengah di Chad, kaum muslimin masih tetap menjadi korban kekerasan di negara yang dilanda krisis ini. Padahal ada 5.600 personel militer Prancis dan Uni Afrika yang ditempatkan di negara itu dengan dalih menjaga keamanan.

Setelah pengunduran diri presiden Afrika Tengah di Chad, orang-orang Kristen negara ini langsung membentuk sejumlah tim untuk menyerang perkampungan muslimin. Kini mereka sedang sibuk melakukan pembalasan pribadi dan keagamaan terhadap kaum muslimin.

Semalam (20/1) di Republik Afrika Tengah, sebuah kelompok bersenjata membunuh 23 muslim, termasuk tiga anak, dan melukai 20 orang lainnya. Sebuah lembaga swasta untuk penyelamatan anak-anak memberitakan, sebuah rombongan muslimin telah diserang di perbatasan Kamerun. Sebelum ini lembaga yang sama telah mengabarkan terbunuhnya 10 orang dan terlukanya 50 orang lain di tempat tersebut.

Menjelang berlangsungnya pemilihan presiden, volume kekerasan di negara ini pun terus meningkat. Menjelang perhelatan politik ini, sejumlah perkampungan muslim di ibukota telah dibakar. Menurut para saksi, tentara Prancis dan Uni Afrika yang ditugaskan ke Afrika Tengah tak mampu menciptakan keamanan di negeri ini.

Selama 11 bulan sejak berkuasanya pemberontak di Republik Afrika Tengah dan pengangkatan Michel Djotodia sebagai presiden, negara ini dilanda pertikaian antar-suku dan agama. Dalam pertemuan dua hari yang berlangsung di ibukota Chad dan dihadiri para pemimpin oposisi, Djotodia menyatakan siap untuk mundur. Tujuannya adalah mengakhiri kekerasan dan pertikaian berdarah di negaranya.

Korban-korban pertama pertikaian antar-suku dan agama ini adalah anak-anak yang diculik untuk dijadikan milisi.

“Sejumlah anak yang diculik satu atau dua tahun lalu, kini telah bertempur di barisan pemberontak,” ungkap Jean Lukning, staf UNICEF di Republik Afrika Tengah.

Uni Eropa telah berjanji mengirim ratusan tentara ke Afrika Tengah untuk memperkuat keamanan di negara ini.

PBB melaporkan, akibat pertikaian di Afrika Tengah, lebih dari satu juta orang telantar dan seribu orang tewas. “Separuh dari warga kota Bangi terlunta-terlunta dan dua juta orang di negara ini butuh bantuan segera dari dunia internasional,” jelas PBB. (ABNA)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL