paris shootingParis, LiputansIslam.com — Kaum Muslim Perancis dilanda kekhawatiran bakal meningkatnya sentimen anti-Muslim di Perancis paska terjadinya serangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo yang menurut keterangan polisi menewaskan 12 orang.

“Ini adalah mimpi buruk bagi komunitas Muslim sekaligus keuntungan bagi kelompok-kelompok ekstremis “kanan” yang akan memanfaatkan kejahatan mengerikan ini,” kata  Houria Bouteldja, Jubir Parti des Indigènes de la République (PIR) kelompok politik yang mewakili orang-orang yang berasal dari negara-negara Muslim di Perancis, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Rabu (7/1).

“Orang-orang yang melakukan kejahatan ini tidak saja telah berbuat kejahatan terhadap Charlie Hebdo, namun juga terhadap kaum Muslim,” tambahnya.

Di sisi lain ia mengecam majalah itu telah “terobsesi dengan Islamisme selama bertahun-tahun”, dan kelompoknya bertekad untuk memerangi segala bentuk Islamophobic.

“Serangan terhadap Charlie Hebdo mendorong orang-orang untuk menyerang kaum Muslim,” kata tokoh Muslim Perancis lainnya, Youssef Boussoumah kepada Al Jazeera.

Partai sayap kanan Front National segera mengeluarkan kecamannya atas serangan tersebut, namun juga menyatakan keprihatinan bahwa kaum Muslim akan mendapatkan ancaman.

Kekhawatian munculnya ancaman terhadap kaum Muslim itu juga disampaikan oleh Alain Gresh, editor Le Monde Diplomatique yang menyebut insiden itu “dapat memperkuat Islamophobia dan membuat orang-orang melihat semua Muslim sama, yaitu sebagai ancaman bagi peradaban dan nilai-nilai Perancis.”

Sementara itu Olivier Roy, mantan konsultan di Kemenlu Perancis dan guru besar di European University Institute membantah serangan itu dimotivasi oleh ketidak adilan terhadap Muslim di negara-negara barat. Menurutnya, kalau motifnya seperti itu maka di Perancis akan terdapat ribuan teroris.

Sementara itu dalam perkembangan terakhir polisi telah menangkap 7 orang yang diduga memiliki hubungan dengan 2 orang pelaku serangan yang masih dalam kejaran polisi. Ke-7 orang itu kini ditahan di pusat penahanan di kota Reims dan Charleville-Mezieres serta Pasis. Demikian BBC News melaporkan, Kamis (8/1).(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*